Showing posts with label GAGASAN PRIBADI. Show all posts
Showing posts with label GAGASAN PRIBADI. Show all posts

Wednesday, 31 December 2014

RENUNGAN AKHIR TAHUN 2014 UNTUK MENYONGSONG TAHUN BARU 2015

Tahun baru 2014 akan segera berakhir dan tahun baru 2015 akan segera tiba. Ada baiknya kita merenungkan apa yang telah kita jalani selama tahun 2014 dan membuat rencana untuk tahun baru dengan harapan dan semangat yang baru pula.

Bagi Lingkungan St Theresia (Santher) Bogor Raya Permai tahun 2014 tetap memiliki arti yang besar. Berbagai peristiwa dan kegiatan rutin mewarnai kehidupan lingkungan. Misa lingkungan yang bisa dikatakan rutin diadakan meskipun yang hadir selalu saja tidak banyak (mengingat banyak warga yang belum tiba di rumah saat misa ligkungan dilangsungkan). Latihan koor berjalan secara rutin setiap hari Minggu sore, biasanya di rumah Ibu Sri Thehamihardja dan selama 2014 koor Santher telah dapat menjalankan semua tugas dengan cukup baik di gereja wilayah maupun di Katedral BMV Bogor. Pertemuan-pertemuan doa rosario hampir selalu dihadiri oleh banyak warga meskipun jika dihitung persentasenya terhadap jumlah umat juga tidak seberapa. Kegiatan Bina Iman Anak berjalan dengan cukup baik karena ada beberapa warga yang peduli terhadap perkembangan iman anak di lingkungan. 

Yang belum banyak berkembang adalah pertemuan-pertemuan untuk APP, AAP dan BKSN. Kegiatan ini masih belum menarik perhatian umat entah karena bahannya kurang menarik atau penyajiannya yang kurang baik. Sehubungan dengan gerakan rekatekisasi Sakramen Panggilan, kegiatan lingkungan juga belum dapat menyentuhnya. Demikian pula dengan ibadah keluarga yang bukunya telah disebarluaskan oleh Paroki ke semua lingkungan termasuk lingkungan Sather.

Di tahun yang baru tentu saja kita berharap akan ada kemajuan dan perbaikan. Jika rencana pemekaran wilayah Semplak menjadi sebuah paroki terwujud di tahun 2015, tanggung jawab umat terhadap kelangsungan dan kehidupan paroki menjadi lebih besar. Karena itu partisipasi dituntut dari lebih banyak dan semua warga. Kehidupan lingkungan harus menjadi lebih hidup. Pengumpulan data, dana, aksi sosial dan lain-lain harus ditingkatkan dengan kesadaran lebih. Namun di atas semua itu, kita berharap bahwa tahun 2015 iman, harapan dan cinta kasih kita akan semakin besar dan kokoh sehingga tugas perutusan umat Katolik di lingkungan Santher akan menjadi lebih nyata.

Selamat tahun baru 2015.

Saturday, 1 November 2014

KEGIATAN LINGKUNGAN SANTHER 2014

Sudah lama saya tidak memposting apa pun di blog ini, bukan karena malas untuk memposting sesuatu namun karena saya kehilangan password. Aneh memang, tetapi itulah kenyataannya. Password lama telah saya ganti namun saya tidak mencatat password baru untuk membuka email yang terhubung dengan blog ini. Ini bukan kali pertama saya kehilangan password. Tahun 2013 yang lalu saya bahkan memerlukan waktu berbulan-bulan untuk menemukan kembali password email.... Untunglah, setelah sekian bulan, saya dapat menemukan kembali catatan kecil saya yang terselip di antara tumpukan teks nyanyian lawas yang hendak saya buang karena sudah terlalu rusak.

Jadi, tidak ada apa pun di blog tidak berarti tidak ada kegiatan apa pun di lingkungan Santa Theresia Bogor Raya Permai. Secara sekilas, kegiatan rutin lingkungan berjalan seperti apa adanya: latihan dan tugas koor lingkungan baik di Gereja St Ignatius Semplak maupun di Katedral BMV Bogor, pembinaan Bina Iman Anak dan Remaja, Misa-misa lingkungan, Natal atau Paskah Lingkungan, kegiatan APP dan AAP serta Kelompok Kitab Suci dan sebagainya.

Namun demikian memang ada beberapa kegiatan atau mimpi yang belum dapat diwujudkan karena keterbatasan waktu dan kesempatan dari para pegiat. Misalnya saja mengumpulkan anak-anak muda dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi mereka, atau kegiatan-kegiatan sosial, kegiatan katekese dan lain-lain. Kalau mau jujur, yang aktif di lingkungan masih terbatas pada orang-orang itu juga. Masih ada sebagian umat yang belum mau terlibat atau tidak peduli pada kegiatan-kegiatan lingkungan.

Semoga lewat refleksi tahunan di akhir 2014, ada harapan untuk perbaikan di tahun 2015 nanti.

Friday, 7 January 2011

TAHUN BARU - SEMANGAT BARU (?)

Tahun 2011 sudah berjalan... paling tidak sudah satu minggu saat tulisan ini dibuat.
Selalu ada pertanyaan : So, what? Apa yang akan kita lakukan di tahun baru ini?
Seperti yang ditulis dalam posting akhir tahun 2010 kemarin, ada banyak pekerjaan rumah bagi pengurus dan umat lingkungan St Theresia di tahun baru ini. Namun ada satu hal penting yang harus diutamakan, yaitu: membangun komunikasi yang intensif di antara pengurus dan umat. Komunikasi itu harus dimaknai sebagai kegiatan, tindakan, dan langkah aktif dari setiap anggota pengurus dan umat untuk saling berbagi informasi, berbagi gagasan, berbagi solusi dan berbagi peran dalam menghidupkan lingkungan sebagai Gereja basis. Komunikasi menjadi penting agar program kerja lingkungan, kebijakan pastoral paroki dan wilayah, kegiatan katekese dan sebagainya dapat dipahami bersama, dihayati bersama, ditanggapi bersama dan ditindaklanjuti sesuai harapan semua anggota jemaat.

Langkah pertama membangun komunikasi adalah dengan mengumpulkan pengurus dan umat. Karena itu, kegiatan Natalan bersama pada Minggu 9 Januari nanti, walaupun sudah pasti tidak akan dapat dihadiri 100% umat, merupakan awal membangun komunikasi itu. Setelah itu, buah-buah pertemuan harus diterjemahkan dalam kegiatan-kegiatan nyata selama tahun 2011.

Tahun baru, semangat baru... apakah mungkin? Tentu saja mungkin...

Tuesday, 14 December 2010

CATATAN MENJELANG AKHIR TAHUN 2010

Tahun 2010 hampir berlalu... sekitar dua minggu kedepan kita sudah akan menyambut tahun baru 2011. Ada baiknya kita melihat apa yang telah terjadi dan kita lakukan selama tahun ini untuk membuat perbaikan di tahun yang akan datang. Apa saja yang dapat kita lihat dalam kehidupan menggereja di lingkungan St Theresia Bogor Raya Permai - Paroki BMV Katedral Bogor?

Pertama: tentang kegiatan LITURGI
Liturgi merupakan jantung hidup Gereja. Tanpa Liturgi, khususnya Perayaan Ekaristi, Gereja tidak dapat bertahan. Kegiatan liturgi di lingkungan Santher selama ini memang masih terbatas pada hal-hal rutin seperti misa lingkungan yang diadakan pada Kamis pekan kedua setiap bulan (kecuali pada Masa Prapaskah dan waktu-waktu tertentu). Keterlibatan dalam liturgi juga masih berkisar pada hal-hal rutin seperti latihan dan tugas koor di Gereja St Ignatius Loyola Semplak dan Katedral BMV Bogor setiap bulan. Demikian pula dengan tugas-tugas penyelenggara misa dan TTK (Tata Tertib dan Kolektan) di Gereja Semplak. Sementara itu, doa-doa rosario di bulan Mei dan Oktober serta ibadat-ibadat lain pada tahun ini sepertinya kurang mendapat tanggapan umat...

Kedua: tentang kegiatan KATEKESE
Kegiatan pewartaan yang dilandasi Kitab Suci juga seperti tahun-tahun sebelumnya kurang kelihatan. Kegiatan pertemuan APP dan APP serta bulan Kitab Suci masih sepi dari perhatian sebagian besar umat lingkungan.
Yang berjalan cukup baik adalah kegiatan Bina Iman Anak (BIA). Sampai sekarang kegiatan ini berjalan dan ada koordinasi dengan BIA Wilayah St Petrus Semplak.

Ketiga: Kegiatan Sosial dan Ekonomi
Kegiatan di bidang ini sebenarnya ada namun memang kurang diekspose: mengunjungi orang sakit, melayat, membantu pemakaman warga, mengumpulkan dana untuk kegiatan sosial dan aksi Paskah dan Natal...

Menatap Kedepan
Tahun 2011 linkungan Santher harus berbenah. Koordinasi di antara pengurus lingkungan dan dengan semua warga harus ditingkatkan... paling utama adalah dikomunikasikan. Partisipasi umat yang selama ini sangat kecil dalam banyak kegiatan harus ditingkatkan. Lewat komunikasi dan kegiatan yang dirancang dengan baik, partisipasi umat diharapkan dapat ditingkatkan.

Wednesday, 25 August 2010

MENGIKUTI BERARTI MELIBATKAN DIRI

Saya lupa siapa yang telah berkotbah tentang hal ini, di mana dan kapan kotbahnya, tetapi saya selalu ingat:Menjadi pengikut Yesus berarti mau melibatkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan Yesus di masa kini.

Mengikuti Yesus tidak hanya melihat dari jauh bagaimana Yesus sedang bekerja. Itu sama saja menjadi penonton. Sebagai penonton, orang bisa menjadi tidak peduli tentang apa hasil pekerjaan Yesus... Kalau hasilnya bagus, penonton bisa ikut puas dan memuji-muji. Bila hasilnya jelek, penonton cukup berkomentar, mengomel, mengumpat-umpat dan meninggalkan arena. Menjadi Katholik tidak boleh hanya menjadi penonton. Alangkah sedihnya Yesus jika para pengikut-Nya hanya menonton... apalagi dari kejauhan... apa yang dikerjakan Yesus.

Mengikuti Yesus ternyata berarti terlibat dengan pekerjaan-pekerjaan Yesus. Terlibat berarti mau menyingsingkan lengan dan baju... Kalau berhasil melakukan pekerjaan juga mengakui bahwa ia lakukan itu bersama Yesus.. Dan bila ia mengalami kegagalan, ia juga mengakui bahwa ia gagal bersama Yesus... Mengikuti Yesus berarti menempatkan Yesus menjadi pusat kegiatan dan hidupnya; menempatkan berarti mempersilakan Yesus untuk menuntun hidupnya.

Apa saja pekerjaan Yesus di jaman sekarang? Gereja Katholik sungguh mengimani bahwa Roh Yesus, Roh Allah Putra, Roh Kudus tetap hidup dan berkarya hingga sekarang. Itu berati bahwa Yesus masih bekerja melalui Gereja-Nya... Apa saja karya Gereja? Ada banyak: karya rohani, karya sosial karitatif, karya pendidikan, karya komunikasi dan lain-lain.

Bagaimana kita melibatkan diri? Pelibatan itu dapat dilakukan sesuai kemampuan kita. Untuk dapat terlibat dalam karya-karya besar, orang mesti bersedia memulai dengan karya-karya yang kecil dan sepele... Kita bisa memulainya dalam hidup pribadi kita, rumah atau keluarga kita, lingkungan tetangga kita (RT, RW, Lingkungan, dll.). Setidak-tidaknya kita dapat lebih peduli pada keprihatinan-keprihatinan Gereja. Misalnya saja: menjaga kebersihan, mencegah polusi, tidak melakukan suap atau korupsi, mau bersosialisasi dengan tetangga, memberi derma dan sedekah, dan lain-lain.

Dalam forum lingkungan Santa Theresia Bogor Raya Permai di wilayah St Petrus Semplak di Paroki BMV Katedral Bogor, warga lingkungan dapat terlibat dalam kegiatan-kegiatan lingkungan. Kita punya banyak kegiatan bersama: berlatih dan menjalankan tugas koor, menjadi petugas TTK, menjadi penyelenggara misa, berdoa rosario bersama, belajar Kitab Suci bersama, mengumpulkan derma dan sumbangan (APP, AAP. iuran bulanan) dan sebagainya... Sangat tidak masuk akal bila umat tidak mau terlibat dalam kegiatan bersama... Sangat disayangkan bila ke-Katholik-an hanya ditampakkan di KTP atau hanya untuk kepentingan pribadi seperti kemudahan mendapatkan sekolah di sekolah Katholik atau untuk tujuan-tujuan lain... Mari terlibat dalam kegiatan bersama di Lingkungan Santher... Gereja basis akan menjadi hidup dan terlibat dengan karya Yesus apabila semua anggota jemaat bahu-membahu bekerja bersama Yesus.

Selamat melibatkan diri.

Wednesday, 29 April 2009

PINDAHNYA TOKOH AGAMA DARI SATU AGAMA KE AGAMA LAIN

Sudah banyak kali saya menerima informasi dari teman-teman saya, dari koran, dari radio dan televisi, dari internet dan dari sumber-sumber lain tentang adanya tokoh Muslim yang berpindah agama menjadi Kristen (entah Protestan entah Katolik)... Namun saya juga sering mendengar bahwa ada juga tokoh-tokoh Kristen (entah Protestan entah Katolik) yang akhirnya memeluk agama Islam.

Belum lama ini saya membaca milis Santher, khususnya email dari Pak Herry Djoko tentang film baru yang dirilis di Iran. Di situ juga ada nama yang bagi saya masih asing: Pdt. Mohammad Ali Makrus At-Tamimi. Saya mencoba mencari informasi tentang orang ini di internet... dan memang benar... ia dulu adalah seorang muslim... bahkan seorang tokoh FPI di Jawa Timur... tetapi kemudian memutuskan menjadi seorang Kristen. Saya membaca banyak komentar dalam blog-blog saudara-saudara Muslim... betapa mereka sangat marah dengan sikap pendeta tersebut. Kalau saya amati, yang membuat mereka marah adalah bahwa sang pendeta tersebut merilis VCD dan buku yang isinya “menjelek-jelekkan” agama Islam. Saya sempat membaca sebagian dari tulisan (tapescript) sang pendeta... dan saya berkesimpulan bahwa tulisan tersebut memang sangat keras dan “menghujam”... Tidak heran bahwa ada beberapa komentar miring tentang Pdt. Mohammad Ali Makrus At-Tamini. Misalnya ada yang mengatakan bahwa ia melakukannya demi mencapai ketenaran sepintas...

Sementara itu orang Kristen, khususnya Katolik, juga pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan ketika seorang tokoh agama lain bernama Hajjah Irene Handono berkotbah di mana-mana di seluruh Nusantara. Beliau sering mengaku sebagai mantan biarawati, pernah belajar teologi (bahkan sekarang beliau dianggap sebagai ahli Kristologi oleh sementara kalangan), pernah disuruh mempelajari kelemahan agamanya sekarang dan sebagainya. Dalam beberapa kotbahnya, beliau banyak menyinggung soal kejelekan-kejelekan dalam agama Katolik. Hal ini tentu saja meresahkan. Benar, beliau pernah menjadi Katolik, pernah masuk biara Ursulin di Bandung (tetapi tidak sampai mengucapkan kaul), pernah belajar tentang teologi (Hal ini lumrah dilakukan oleh para aspiran/novis dan calon biarawan/biarawati pada umumnya... walaupun hanya dasar-dasarnya saja)... Namun data-data juga menunjukkan bahwa beliau pernah menikah dengan seorang mantan frater... beliau juga meninggalkan biara karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan biara... dan beliau belum pernah mengucapkan kaul sebagai biarawati.

Saya juga pernah memiliki kenalan di stasi asal saya... Dari kecil, ia memang sudah tampak aneh... sebagai anggota putra altar, dia lebih menonjol dibanding yang lain dalam hal “keanehan”... misalnya sikap doanya yang berlebihan dan spontanitasnya yang lebih nyata daripada teman-temannya. Menurut saya, dia sebenarnya cerdas tetapi dia tidak mendapatkan bimbingan yang dia butuhkan. Saking “pinter”-nya, ia pun “keblinger”... Ia bergaul dengan anak-anak remaja di luar Gereja... sampai akhirnya ia memutuskan menjadi seorang “pendakwah” agama lain. Apalagi, keluarga istrinya memang termasuk tokoh agama lain. Lalu apa yang didakwahkan oleh kenalan saya tersebut? Ia menjadi sangat terkenal di pelosok-pelosok kampung karena ia sangat rajin mengupas apa yang dinilainya jelek dalam agama Katolik... Ia laris manis... (Hebatnya: orang-orang Katolik di stasi saya tidak pernah marah pada kenalan saya... justru rumah orang tuanya pernah dipakai sebagai tempat doa lingkungan... lha bapak dan ibunya kan memang tidak bersalah to?). Saking larisnya, kenalan saya menjadi “lupa” pada keluarganya... Ia merantau bahkan sampai luar Jawa... dan menjadi masyur di mana-mana. (Hebat yang kedua: Ketika istrinya melihat bahwa orang-orang Katolik tidak marah, ia justru tergerak untuk mempelajari agama suaminya. Sang istri pun datang kepada ayah saya dan minta dibaptis... Anda tahu? Ayah saya yang menjadi prodiakon dan katekis saat itu terkejut bukan kepalang.... Dan memang benar... sang istri pun dibaptis setahun kemudian, begitu pula dengan anaknya... sementara sang suami entah ada di mana).

Kita perlu mencermati secara bijak fenomena “pendeta” atau “ulama” atau “tokoh agama” karbitan... yang menjadi terkenal karena menjelekkan agama lamanya. Menurut saya, seandainya seseorang memang memilih untuk berganti agama, biarkanlah itu... sejauh itu pilihan hati nuraninya. Tetapi... janganlah ia menjelek-jelekkan agama lamanya... apa pun itu alasannya. Koar-koar tentang praktek-praktek agama lain yang menurut seseorang salah atau kurang baik justru akan memperkeruh suasana, merusak jalinan persaudaraan, merendahkan martabat agama sendiri dan melanggar cinta kasih.

Tahun 1990-an... pernah terjadi ada seorang pendakwah agama lain yang melakukan ceramah di sebuah tempat ibadah di desa saya... Pak Kepala Desa pun hadir beserta jajarannya. Banyak sekali yang hadir dalam ceramah tersebut... bahkan ratusan orang rela berjalan kaki berkilo-kilo meter dari desa lain untuk mendengarkan ceramah dari seseroang yang mengaku bernama Anastasia.. seorang mantan suster biarawati. Rekan saya, Mas Gunawan Handoyo yang sekarang menjadi anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo, sempat merekam ceramah tersebut dengan tape recorder-nya karena rumahnya memang sangat dekat dengan tempat ibadat tersebut. Saya sendiri tidak melihat ceramah itu tetapi saya sempat meminjam rekaman itu dan mendengarkannya.

Apa yang terjadi? Sang “mantan biarawati” melontarkan guyonan-guyonan dan kritik-kritik sinis tentang agama Katolik... tentang tiga Tuhan, tentang orang Katolik yang menyembah patung, tentang puasa dan pantang yang aneh, tentang Yesus... dll. Dia mendapat sambutan antusias dari penggemarnya... Tepuk tangan dan umpatan kepada orang Katolik terdengar membahana (karena acara itu memang disiarkan lewat pengeras suara sehingga dari jarak 3 kilometer pun Anda bisa mendengar... Ingat, ini di pelosok desa tahun 90-an yang belum ada suara sepeda motor...).

Hebatnya... belum juga sampai separo ceramah, lebih dari dua pertiga tempat duduk sudah kosong... para pendengar dari desa saya pada umumnya langsung beranjak pergi... pulang... dan sebagian lainnya langsung menuju rumah keluarga-keluarga Katolik ... sambil menangis... Mereka minta maaf.... Mereka bilang, “Bagaimana saya harus membenci teman-teman Katolik saya? Bagaimana saya harus berpisah dari tetangga-tetangga Katolik yang selama ini menjadi saudara-saudara saya?” Hebatnya... orang-orang Katolik juga bersikap sangat tenang... tetapi keesokan harinya memang tetap diadakan pertemuan di Balai Desa... semua tokoh agama dan masyarakat dikumpulkan... Aparat dari kecamatan, kepolisian dan koramil terlibat mendamaikan. Kesimpulan pertemuan: acara-acara seperti itu harus dilarang karena menciptkan suasana perpecahan...

Cinta lebih kuat daripada perpecahan dan kebencian. Mengapa tidak membiarkan cinta bersemi dalam diri di antara pemeluk agama yang berlainan? Bukankah semua bentuk cinta berasal dari Tuhan yang sama? Mari kita waspada agar kita tidak terjebak pada fenomena “murahan”, yaitu menjadi mashyur karena menebar kebencian. Tebarkan "fenomena cinta" kepada sesama sekalipun mereka berbeda dari kita.

Monday, 27 April 2009

QUO VADIS PILEG DAN PILPRES?

Pemilu Legislatif telah terlaksana tanggal 9 April yang lalu. Bagi partai-partai politik peserta pemilu, saat-saat sekarang ini adalah momen untuk melakukan evaluasi dan membuat perencanaan.

Mereka harus melakukan evaluasi untuk melihat apa yang membuat mereka gagal atau berhasil, faktor-faktor apa yang selama masa persiapan dan kampanye telah mereka kesampingkan sehingga berdampak negatif bagi perolehan suara, berapa milyar uang yang telah dibelanjakan untuk kampanye... dsb.

Mereka juga harus membuat perencanaan untuk menghadapi Pilpres bulan Juli nanti. Mereka bertanya tentang perlu tidaknya berkoalisi dengan partai lain. Tidak heran bahwa mereka mulai berhubungan dengan pihak-pihak lain yang selama ini berseberangan dengan mereka...

Saya melihat hal-hal yang "lucu" sekarang ini... namun saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan pihak-pihak atau partai tertentu.

Misalnya: sekarang orang dan partai beramai-ramai menuduh KPU dan Presiden sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap kekacauan DPT pada Pilleg bulan April ini. Bagi saya hal ini lumayan lucu... Mengapa? Bukankah mereka juga yang melakukan seleksi, "fit and proper test" kepada para anggota KPU... dan menentukan siapa ketua dan para pejabatnya? Mereka juga yang membuat berbagai peraturan perundang-undangan tentang pemilu... Mereka pula yang melakukan tarik ulur sehingga berbagai kebijakan KPU tidak serta merta berjalan baik karena terjadi tabrakan beberapa peraturan... KPU mengeluh terhadap pemerintah yang tidak serta merta mengucurkan anggaran bagi KPU... Tetapi kita pun maklum bahwa Menteri Keuangan tidak secara gegabah mengeluarkan anggaran itu... karena ada aturan-aturan yang cukup rinci dan bertahap tentang bisa tidaknya suatu anggaran disetujui dan dikucurkan oleh Menteri Keuangan... Siapa juga yang membuat pemerintah harus bolak-balik ke DPR supaya anggaran atas suatu kegiatan negara segera tuntas? Bukankah mereka juga?

Ini juga lucu... beberapa pimpinan partai mengklaim bahwa Presiden harus bertanggung jawab terhadap kecurangan selama Pilleg... Tunggu dulu... kenapa tidak disebut bahwa itu menjadi tanggung jawab Pemerintah? Apakah karena Wakil Presiden-nya sudah melakukan kunjungan silaturahmi dan bersepakat hendak membangun koalisi dengan mereka? Apakah semua semata-mata salahnya sang presiden? Lha wakil presidennya apa juga ngga salah? Eh... bukan maksud saya untuk membela presiden loh... Saya cuma pakai nalar waras saja.

Menurut saya, semua pihak turut andil dalam kekacauan DPT tahun ini... Parpol, DPR, KPU, Pemerintah dan banyak pihak harus menanggung akibat dari rusaknya sistem pemilu legislatif tahun ini. Parpol semestinya selama satu tahun terakhir ini aktif menggerakkan kadernya untuk memantau dan mendesak para petugas pendata penduduk agar data penduduk, DPS dan DPT dapat disusun dari tingkat RT, RW, Kelurahan dst dengan lebih rapi. DPR mestinya juga jangan terlalu berlarut-larut dalam memutuskan apa yang baik untuk kepentingan bangsa. Semestinya "ketidaksukaan" kepada figur tertentu jangan menjadi penutup pintu bagi kerja sama dengan orang-orang lain... Pemerintah, dalam hal ini berbagai departemen yang harus terlibat dalam penyusunan DPT dan anggaran, juga harus bekerja secara proporsional... dan tidak memihak pada salah satu partai atau calon presiden. Sementara itu, KPU harus dapat melakukan koordinasi dengan baik di antara mereka sendiri dan mampu membangun kerja sama dengan berbagai pihak di luar KPU. Komisi ini seharusnya memiliki karakter kepemimpinan yang kuat agar tidak diombang-ambingkan oleh kepentingan pihak-pihak tertentu.

Kita tentu berharap bahwa semua pihak akan tetap menggunakan akal sehat dan hati nurani dalam menerima keputusan KPU nanti. Kalah atau menang adalah hal biasa dalam pertarungan politik... tetapi siapa pun harus mengedepankan kepentingan publik (kepentingan rakyat) di atas semuanya. Mereka yang menang pun harus mengambil prinsip ini: "Menang tanpa ngasorake".

Saya tidak tahu siapa yang akan dicalonkan sebagai presiden dan wakil presiden... Saya sendiri memilih untuk tidak terlalu peduli karena tokoh-tokohnya sudah ada di atas pentas... Kita hanya menunggu keputusan mereka saja. Kalau nanti mereka telah menentukan capres dan cawapres, barulah saya akan mengambil sikap... mau memilih atau tidak.

Wah... saya kok jadi "ngombro-ombro" ya? Namanya juga mengeluarkan uneg-uneg... daripada disimpan di dalam hati... nanti kalau meletus ... jadi bau.

Merdeka!!! Independent!!!

(Thomas A. Sutadi)