Showing posts with label PENDIDIKAN. Show all posts
Showing posts with label PENDIDIKAN. Show all posts

Friday, 1 May 2009

HUMANIORA - Gagasan Pater J Drost SJ

Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang perlu tidaknya kita belajar bahasa Latin. Kebetulan, saya menemukan tulisan di bawah ini di internet.... Pater Drost menulis tentang Humaniora beberapa tahun yang lalu... ini sebuah topik yang cukup bagus dan menarik, dan yang barangkali hanya dipahami oleh sedikit orang, misalnya oleh Ibu Ari...he..he..he.. Pater Drost juga menyinggung sedikit tentang bahasa Latin. Ada baiknya kita perhatikan... Tulisan ini saya copy-paste dari tulisan alm. Pater J Drost SJ dalam http://www.unisosdem.org. Semoga berguna untuk umat Santher. (Thomas A. Sutadi)

HUMANIORA
Oleh J Drost SJ

APAKAH dalam pendidikan kita ada unsur humaniora? Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu lebih dulu menjawab pertanyaan: "Apa itu humaniora?" Yang disebut human sciences, atau humanities, bukanlah humaniora. Bahkan, disiplin-disiplin yang tergolong dalam human sciences belum ada, ketika humaniora dibentuk.

Dalam humaniora klasik, bahasa tidak disebut sebagai disiplin. Maka, bahasa Latin bukan unsur humaniora. Bahasa Latin, yang karena perkembangan historis, merupakan bahasa yang dipakai sebagai lingua franca, seperti halnya bahasa Melayu yang dulu merupakan lingua franca di Indonesia. Bahkan bahasa Latin bukan merupakan bahasa "dasar". Bahasa yang paling tua di Eropa dan sebagian dari Asia adalah bahasa Indo-European.

Bahasa Yunani, Celtic, Italic, Germanic, Slavic, Baltic, dan Indo-Iranian merupakan anak bahasa. Bahasa Latin adalah dialek dari bahasa Italic. Selain itu, bahasa Latin tidak pernah menghasilkan karya filosofis, drama, dan literatur yang berarti. Kebanyakan karya Latin adalah mengenai hukum, administrasi, dan politik.

Namun, karena suku Latinum berhasil merebut kekuasaan di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara, mereka berhasil menjadikan bahasa Latin sebagai bahasa pemerintah dengan mendesak bahasa Yunani sebagai bahasa budaya. Karya Yunani tidak pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, tetapi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan lewat Spanyol dari bahasa Arab ke bahasa Latin.

HUMANIORA, yang menjadikan manusia (humanus) lebih manusiawi (humanior), mula-mula terdiri atas gramatika, logika, dan retorika; trivium. Pada awalnya, segala tekanan diletakkan pada gramatika yang sering dipelajari selama tiga tahun lebih.

Ini terjadi karena penguasaan bahasa Latin (bahasa studi dan pergaulan di universitas, bukan bahasa ibu para mahasiswa) sama sekali belum cukup untuk mengomunikasikan hasil proses belajar. Dan, bila bahasa komunikasi tidak dikuasai secara mutlak, logika dan retorika tidak mungkin berjalan baik. Lama-kelamaan keadaan itu diubah; logika dan retorika ditekankan juga. Ada perkembangan dari trivium ke quadrivium: teologi, aritmetika, musik (teori akustik), dan astrologi (sekarang disebut astronomi).

Jadi, pendidikan humaniora bukan bahasa sebagai bahasa. Gramatika (tata bahasa) bermaksud membentuk manusia terdidik yang menguasai sarana komunikasi secara mutlak. Logika bermaksud membentuk manusia terdidik yang dapat menyampaikan apa yang ingin disampaikan sedemikian rupa hingga dapat diterima karena dapat dimengerti dan masuk akal. Retorika bermaksud membentuk manusia terdidik mampu merasakan perasaan dan kebutuhan pendengar, dan mampu menyesuaikan diri dan uraian dengan perasaan dan kebutuhan itu.

APA yang diharapkan dari humaniora zaman sekarang ini?

Sebagai bahan perbandingan, kiranya tidak salah bila kita dengar apa yang diharapkan dari calon mahasiswa oleh universitas-universitas di Jerman.


Tuntutan itu dapat dipadatkan dalam satu kata hochschulreife. Semua calon harus telah mencapai hochschulreife, artinya: kematangan, baik intelektual maupun emosional, agar dapat menempuh studi akademis. Teras kematangan itu adalah kemampuan bernalar dan bertutur yang telah terbentuk.

Jadi, yang siap mulai studi di perguruan tinggi adalah dia yang dapat mengendalikan nalar, yaitu dia yang kritis. Seorang yang kritis adalah seorang yang, antara lain, mampu membedakan macam-macam pengertian dan konsep, sanggup menilai kesimpulan-kesimpulan tanpa terbawa perasaan, menolak perampatan-perampatan (generalisasi), tidak membeo semboyan-semboyan, dan tidak menerima propaganda sebagai pembuktian. Unsur lain yang perlu adalah kritik diri yang memungkinkan orang bernalar dan bertindak obyektif.

Ciri khas dari seseorang yang "matang" masuk perguruan tinggi di Indonesia adalah penguasaan bahasa Indonesia, baik saat bertutur maupun menulis. Tata bahasa dan ejaan harus dikuasai secara mutlak. Logika mencirikan segala cara berkomunikasi.

Bernalar dan bertutur diperoleh dan dibentuk terutama lewat matematika dan bahasa. Matematika mengajar kita bernalar logis. Namun, karena matematika adalah ilmu kuantitas, padahal ilmu-ilmu pengetahuan mencakup lebih dari kuantitas, perlu juga memperoleh kematangan masuk universitas lewat ilmu-ilmu yang lain. Yang paling menunjang dan memperluas perolehan lewat matematika adalah bahasa. Seseorang baru bisa bernalar dan bertutur secara dewasa, bila sudah menguasai ortografi, gramatika, dan sintaksis bahasanya sendiri.

Membaca ini semua, kita tidak heran mendengar seorang rektor universitas di Jerman berkata, "Setiap mahasiswa yang ingin studi kimia harus mempunyai nilai tinggi untuk matematika dan bahasa Jerman. Nilai baik untuk bahasa Latin dan bahasa Yunani diharapkan. Tidak begitu penting nilai-nilai fisika dan kimia".

Seorang rektor lain mengatakan, "Kalau mau studi fisika, nilai untuk fisika dan kimia tidak penting, karena fisika dan kimia akan dipelajari di sini. Tetapi, nilai matematika dan bahasa Jerman harus tinggi, karena nilai-nilai itu menunjukkan apakah calon itu pandai atau tidak."

Di Indonesia, cara kita menangani proses penerimaan mahasiswa sama sekali lain dan tidak memperhatikan aspek itu. Alasannya, karena unsur pokok pendidikan humaniora tidak ada dalam pendidikan kita. Karena itu, sistem Jerman lebih baik diterapkan di Indonesia.

Humaniora adalah gramatika, logika, dan retorika. Logika dan retorika tidak dapat berkembang, karena penguasaan gramatika bahasa Indonesia amat lemah. Mengapa? Sebab, mereka yang menulis, yang berbicara, yang berkhotbah, yang memberi kuliah, yang mengajar membuat kesalahan, yang oleh negara lain akan ditanggapi secara sinis dengan pertanyaan apakah orang itu sudah lulus SD atau belum. Reaksi ini juga timbul di Indonesia.

***
DARI tahun 1960 sampai tahun 1976, setiap hari Minggu saya ke desa-desa di Daerah Istimewa Yogyakarta, berkhotbah memakai bahasa Jawa. Ketika saya membuat kesalahan, saya tetap dipuji karena saya bukan orang Jawa. Tetapi, kalau seorang pastor Jawa membuat kesalahan yang sama, dia dikritik habis-habisan.

Seorang Jawa yang telah berpendidikan tidak boleh membuat kesalahan-kesalahan itu. Dan, saya kira ini berlaku juga untuk semua suku bangsa. Namun, saat mengajar atau memberi kuliah atau menyusun skripsi untuk ujian sarjana, mereka memakai bahasa Indonesia secara salah, mereka dibiarkan. Karena, seperti bahasa Jawa bukan bahasa saya, demikian pula bahasa Indonesia bukan bahasa mereka!

Untuk kebanyakan orang Indonesia, bahasa Indonesia adalah de facto "a second language", sementara bahasa ibu mereka sudah tidak dikuasai lagi. Ini berarti, bahasa Indonesia untuk calon intelektual kita bukan merupakan sarana humaniora. Bagaimana logika dan retorika bisa dikembangkan, kalau gramatika dari bahasa Indonesia tidak dikuasai secara mutlak?

Kesimpulan saya, pendidikan humaniora modern mungkin sekali di Indonesia, asal bahasa Indonesia sungguh-sungguh menjadi bahasa budaya. Bila bahasa Indonesia telah menjadi bahasa budaya, kita akan mampu juga menguasai bahasa asing. Mustahil mempelajari bahasa asing, bila di SD bahasa Indonesia tidak diajarkan secara optimal.

Jadi, syarat mutlak ialah tidak ada pengajaran bahasa Inggris di SD, karena mengganggu pengajaran bahasa Indonesia. Di Eropa dan Amerika, tidak ada satu negara pun yang mengajarkan bahasa asing di tingkat SD. Di kelas I SLTP sampai kelas III SMU, setiap minggu ada lima jam pelajaran bahasa Indonesia dan empat jam pelajaran bahasa asing; paling banyak dua bahasa asing, yaitu bahasa Inggris dan satu bahasa asing lain. Inilah syarat bagi kita orang yang berbudaya: menguasai dua bahasa asing.

Hanya ada satu kesulitan. Bila masing-masing bahasa asing mendapat dua jam pelajaran seminggu, mustahil dapat belajar sebuah bahasa. Karena itu, anjuran saya: hanya satu bahasa asing saja, yaitu bahasa Inggris. Dengan empat jam seminggu selama enam tahun, hasilnya akan cukup memuaskan.

J Drost SJ Ahli pendidikan tinggal di Jakarta

URL Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0210/10/opini/huma04.htm
Keterangan Artikel Sumber: KompasTanggal: 10 Okt 02Catatan: -
URL Artikel : http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=599&coid=3&caid=22Copyright © 2002 Uni Sosial Demokrat, http://www.unisosdem.org

Thursday, 16 April 2009

PERLUKAH KITA BELAJAR BAHASA LATIN?

Misa PASKAH dalam bahasa Latin

Pada hari Minggu Paskah tanggal 12 April yang lalu saya menonton Perayaan Ekaristi Paskah bersama Bapa Suci Paus Benediktus XVI dari Vatikan melalui siaran Indosiar. Terus terang saya kagum dengan komitmen Indosiar untuk menayangkan upacara ini secara "live" atau langsung. Perayaan Ekaristi tersebut diselenggarakan dalam berbagai bahasa, khususnya Latin dan Itali serta beberapa bahasa asing lain yang digunakan untuk doa umat (Prancis, Jerman, Arab, Portugis, Spanyol, etc.). Yang pasti, sebagian besar lagunya berbahasa Latin.

Di tengah-tengah acara tersebut, saya mendapat SMS dari Sheila, organis koor Exultate. Sheila menanyakan kepada saya di mana kita bisa belajar bahasa Latin. Dia ingin tahu kenapa ucapan kata-kata Latin yang ia dengarkan di TV berbeda dari yang pernah ia dengan di Gereja. (Mungkin Sheila belum tahu bahwa Bapa Suci menggunakan bahasa Itali dalam khotbahnya dan dalam beberapa bagian pidatonya... tentu saja ucapannya berbeda dari bahasa Latin yang pernah didengarnya di gereja.)

Tetapi... menarik bahwa Sheila bertanya kepada saya di mana kita dapat belajar bahasa Latin. Saya jawab bahwa bahasa Latin saat ini hanya dipelajari di seminari-seminari, dan itu pun tidak mendalam... sehingga para calon imam hanya tahu sedikit kulitnya... Ada juga buku-buku tentang bahasa Latin; misalnya Proverbia Latina terbitan Kompas Gramedia karangan Bapak BJ Marwoto (kebetulan beliau adalah paman dari Maxi). Saya cari di internet... dan saya hanya mendapatkan satu orang yang dapat memberikan kursus bahasa Latin... di Jakarta. Hebatnya, orang tersebut adalah seorang Muslim yang sekaligus ahli dalam ilmu keagamaan.... bukan seorang Katolik atau Protestan. Saya menaruh hormat kepada beliau meskipun saya tidak mengenal beliau. Beliau menyadari pentingnya belajar bahasa Latin dan ingin memperkenalkan bahasa kuno tersebut ke banyak orang. Salut! Namanya Bapak Adian Husaini, M.A. dan dalam blog tersebut ditulis bahwa beliau mengajar di Kantor INSISTS Jakarta.

Berikut ini saya copy-paste-kan tulisan beliau dalam blognya. Ada beberapa bagian yang saya tambahkan karena Bapak Adian Husaini mengajarkan bahasa Latin klasik, sedangkan yang banyak kita dengarkan dan gunakan di Gereja adalah bahasa Latin eklesiastik. Silakan baca.

Manfaat Belajar Bahasa Latin

Bahasa Latin adalah bahasa yang sebenarnya sudah sangat akrab dengan kita. Sejak di bangku sekolah menengah (SMP atau SMA), bahkan sejak kecil, kita sudah dikenalkan dengan berbagai istilah dan ungkapan yang berasal dari atau dalam bahasa Latin. Sebagai contoh, ungkapan ora et labora, homo homini lupus, mens sana in corpore sano, veni vidi vici, quo vadis, pro forma, ante meridiem, post meridiem, ante mortem, post mortem, persona non grata, ad hoc, anno domini (A.D.), ad interim, alma mater, dies natalis, cogito ergo sum, cum laude, summa cum laude, ex officio, idem, in absentia, per capita, primus inter pares, versus, vox populi vox dei, bonus, bella, casa blanca, magna carta, dan sebagainya.

Di dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, nama-nama tumbuhan, hewan, juga organ-organ tubuh manusia dan hewan diberikan dalam bahasa Latin.Dulu kita diberitahu oleh guru kita, bahwa nama-nama tumbuhan dan hewan diberikan dalam bahasa Latin, karena bahasa ini sudah mati, tidak berkembang lagi, sehingga nama-nama itu tidak mudah berganti. Penjelasan itu tidak salah, hanya saja, memang bahasa Latin merupakan bahasa ilmiah di dunia Latin Eropa sampai abad ke-19. Ketika itu semua ilmuwan menulis karya ilmiahnya dalam bahasa Latin.

Namun, biasanya para pelajar tidak dikenalkan dengan dasar-dasar bahasa Latin, sehingga tidak jarang ada kesalahan dalam mengucapkan atau memahami maknanya dengan tepat. Padahal, jika dikenalkan dan diajarkan sedikit saja, dasar-dasar bahasa Latin, maka berbagai ungkapan dan istilah dalam bahasa Latin, akan lebih mudah dihafal dan dipahami.

Sebagai contoh, ora et labora diartikan dengan “bekerja sambil berdoa”, padahal arti yang tepat adalah “berdoalah dan bekerjalah”. Kata ora adalah bentuk perintah (imperative) dari kata kerja oro (saya berdoa, dalam, bahasa kamus bahasa Latin, kata kerja dicantumkan dalam bentuk orang pertama, saya). Juga ungkapan “veni vidi vici”, biasanya diucapkan dengan [vini, vidi, vici] (dengan ucapan “C” untuk “cacing”). Padahal, ucapan yang benar menurut ucapat Latin klasik adalah [veni, vidi, viki]. Dalam bahasa Latin klasik, huruf “C” selalu dibaca “K” dalam bahasa Indonesia (“K” untuk “kacang”), seperti kata “casa blanca” harus dibaca [kasa blanka] artinya “rumah putih”, bukan dibaca [casa blanca].

Tetapi memang betul... bahwa dalam bahasa Latin eklesiastik atau bahasa Latin yang digunakan oleh Gereja Katolik, huruf C dan G memiliki ucapan yang sedikit berbeda dari Latin klasik. Dalam Latin eklesiastik, huruf C yang diikuti huruf I, E, AE, OE selalu diucapkan C seperti dalam “cacing”; sedangkan huruf C yang diikuti huruf A, O dan U selalu diucapkan K seperti dalam Latin klasik. Demikian juga dengan huruf G. Dalam Latin eklesiastik, huruf G dibaca J (seperti dalam Jerman) bila diikuti huruf I dan E. Sedangkan bila diikuti A, O dan U, huruf G harus dibaca seperti dalam “garing”, “gado-gado”.

Ungkapan Caius Julius Caesar, Kaisar Romawi, yang terkenal itu (veni, vidi, vici), biasanya diartikan dengan “saya datang, saya melihat, dan saya menang”. Ungkapan ini sebenarnya diberikan dalam bentuk lampau (past tense), yang arti tepatnya ialah “saya telah datang, saya telah melihat, dan saya telah menang.” Dalam bentuk sedang atau (present tense), ungkapan ini seharusnya ialah “venio, video, vinco”, artinya “saya datang, saya melihat, dan saya menang”.

Ini sebenarnya ungkapan yang menggambarkan keperkasaan dan kesombongan Julius Cesar, bahwa ketika berperang melawan raja Pontus, sekitar tahun 47 SM, dia tidak perlu bersusah-payah dalam mengalahkan musuh. Tetapi, cukup hanya datang dan melihat-lihat saja, musuh sudah lari terbirit-birit, ketakutan, sehingga dia menang tanpa berperang. Dalam pertandingan olah raga, ungkapan ini biasanya digunakan untuk memberi semangat kepada tim yang bertanding.

Bagi pelajar IPA atau mahasiswa bisang kedokteran, kedokteran hewan, biologi, dan sebagainya, kata-kata Latin telah sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita mengetahui dasar-dasar bahasa Latin, maka kita akan melihat, betapa banyaknya nama-nama tumbuhan dan hewan yang telah akrab dengan kita. Misalnya, nama latin dari padi ialah oryza sativa. Dalam bahasa Latin, padi adalah “oryza”.

Dalam dunia kedokteran hewan, dikenal istilah “kadaver” untuk menyebut bangkai binatang. Istilah ini memang berasal dari bahasa Latin “cadaver”. Begitu juga istilah-istilah “os” (tulang), pembuahan “in vivo” (pembuahan di dalam tubuh), dan pembuahan “in vitro” (pembuahan dalam tabung/ di luar tubuh), postmortem (pemeriksaan pasca kematian).Anak-anak sekolah dasar sudah diajarkan tentang jenis-jenis binatang, seperti “herbivora”, “carnivora”, dan “omnivora”. Kata-kata ini juga berasal dari bahasa Latin.

Herbivora berasal dari kata “herba” artinya, “rumput”, dan “voro” artinya “menelan” atau “makan”. Maka, herbivora adalah jenis binatang pemakan rumput. Kata Carnivora berasal dari kata “caro, carnis”, yang artinya “daging”. (bentuk-bentuk perubahan kata benda akan dijelaskan kemudian). Sedangkan kata “omnivora” adalah jenis binatang pemakan semua makanan. Ini berasal dari kata “omnis” yang artinya “semua”.

Bahasa Latin sampai saat ini masih digunakan di lingkungan Vatican. Maka, dalam bidang teologi Kristen, penguasaan bahasa Latin menjadi satu keharusan. Istilah-istilah Latin sudah sangat akrab di telinga banyak orang, seperti frater, pater, pastor, ecclesia, pacem in terris, dan sebagainya. Begitu juga dalam bidang hukum dan politik, banyak sekali istilah-istilah Latin yang perlu dikuasai oleh pakar politik atau praktisi hukum, seperti istilah “pro-justisia” yang sebenarnya “pro-iustitia”, ius-soli, ius sanguinis, pax-americana, res publica, pro forma, novum, in absentia, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, ada baiknya, sedikit banyak mengenal dasar-dasar bahasa Latin, untuk menambah wawasan, atau mungkin untuk mendalami lebih jauh berbagai bidang ilmu pengetahuan. Peminat studi Islam, misalnya, ada baiknya menguasai bahasa Latin, sebab dengan itu, akan dapat membaca karya-karya ilmuwan Barat yang di Zaman Pertengahan ditulis dalam bahasa Latin. Pada tahun 1143, untuk pertama kalinya, orang Barat mengenal al-Quran melalui terjemahan Bahasa Latin yang diterjemahkan oleh Robert of Ketton.

Pada abad ke-13, Ricoldo da Montecroce juga menerjemahkan al-Quran dalam bahasa Latin, yang ia beri judul “Confutatio Alcorani”. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh tokoh Kristen Protestan Martin Luther ke Bahasa Jerman. Pada abad ke-15 juga muncul terjemahan al-Quran oleh John of Segia (m. 1458), yang mengoreksi karya Ketton. Begitu juga bidang sains Islam, perlu dilengkapi dengan pengetahuan bahasa Latin, sebab di Zaman Pertengahan, para ilmuwan Barat banyak menerjemahkan karya-karya ilmuwan Muslim dari bahasa Arab ke bahasa Latin.

Bidang teologi Kristen sulit dipisahkan dari bahasa Latin, karena dokumen-dokumen resmi Vatikan ditulis dalam bahasa Latin.

Di era globalisasi saat ini, dunia pemikiran keagamaan saling berkelindan satu sama lain. Kaum Muslim, Kristen, dan agama-agama lain, sulit menghindarkan diri dari pengaruh pemikiran-pemikiran keagamaan yang berkembang di dunia Barat. Karena itu, bagi peminat sejarah dan perkembangan pemikiran keagamaan, akan lebih bermanfaat jika bisa memahami bahasa Latin.C.W. Valentine, dalam buku “LATIN: Its Place and Value in Education” (London: University of London, 1935), mencatat bahwa Bahasa Latin menjadi dasar penting untuk mempelajari bahasa-bahasa asing lain, yang berbasis bahasa Latin (Romance languages), seperti bahasa Perancis, Italia, atau Spanyol. Bahasa Latin juga menjadi fondasi penting dalam perkembangan bahasa Inggris.

Edwin Lee Johnson dalam bukunya, Latin Words of Common English, (London: D.C. Heath and Company, 1931), menjelaskan dengan terperinci sejarah dan pengaruh bahasa Latin terhadap bahasa Inggris.

Oleh sebab itu, para peminat sastra Inggris, akan sangat baik jika memahami dasar-dasar bahasa Latin, sebab dapat mengetahui asal-muasal dan perkembangan makna suatu kata dengan tepat.