Showing posts with label RENUNGAN. Show all posts
Showing posts with label RENUNGAN. Show all posts

Wednesday, 31 December 2014

RENUNGAN AKHIR TAHUN 2014 UNTUK MENYONGSONG TAHUN BARU 2015

Tahun baru 2014 akan segera berakhir dan tahun baru 2015 akan segera tiba. Ada baiknya kita merenungkan apa yang telah kita jalani selama tahun 2014 dan membuat rencana untuk tahun baru dengan harapan dan semangat yang baru pula.

Bagi Lingkungan St Theresia (Santher) Bogor Raya Permai tahun 2014 tetap memiliki arti yang besar. Berbagai peristiwa dan kegiatan rutin mewarnai kehidupan lingkungan. Misa lingkungan yang bisa dikatakan rutin diadakan meskipun yang hadir selalu saja tidak banyak (mengingat banyak warga yang belum tiba di rumah saat misa ligkungan dilangsungkan). Latihan koor berjalan secara rutin setiap hari Minggu sore, biasanya di rumah Ibu Sri Thehamihardja dan selama 2014 koor Santher telah dapat menjalankan semua tugas dengan cukup baik di gereja wilayah maupun di Katedral BMV Bogor. Pertemuan-pertemuan doa rosario hampir selalu dihadiri oleh banyak warga meskipun jika dihitung persentasenya terhadap jumlah umat juga tidak seberapa. Kegiatan Bina Iman Anak berjalan dengan cukup baik karena ada beberapa warga yang peduli terhadap perkembangan iman anak di lingkungan. 

Yang belum banyak berkembang adalah pertemuan-pertemuan untuk APP, AAP dan BKSN. Kegiatan ini masih belum menarik perhatian umat entah karena bahannya kurang menarik atau penyajiannya yang kurang baik. Sehubungan dengan gerakan rekatekisasi Sakramen Panggilan, kegiatan lingkungan juga belum dapat menyentuhnya. Demikian pula dengan ibadah keluarga yang bukunya telah disebarluaskan oleh Paroki ke semua lingkungan termasuk lingkungan Sather.

Di tahun yang baru tentu saja kita berharap akan ada kemajuan dan perbaikan. Jika rencana pemekaran wilayah Semplak menjadi sebuah paroki terwujud di tahun 2015, tanggung jawab umat terhadap kelangsungan dan kehidupan paroki menjadi lebih besar. Karena itu partisipasi dituntut dari lebih banyak dan semua warga. Kehidupan lingkungan harus menjadi lebih hidup. Pengumpulan data, dana, aksi sosial dan lain-lain harus ditingkatkan dengan kesadaran lebih. Namun di atas semua itu, kita berharap bahwa tahun 2015 iman, harapan dan cinta kasih kita akan semakin besar dan kokoh sehingga tugas perutusan umat Katolik di lingkungan Santher akan menjadi lebih nyata.

Selamat tahun baru 2015.

Friday, 2 July 2010

AKU MENDAMBA ROMO YANG

Aku Mendamba Romo Yang
[Puisi Romo oleh Arswendo Atmowiloto]

aku mendamba Romo yang penuh kasih
- bukan yang pilih kasih
aku mendamba Romo yang bajunya kadang kekecilan, kadang kegedean
itu berarti pemberian umat
sebagai tanda cinta, tanda hormat
aku mendamba Romo, yang galak tapi sumanak
kaku pada dogma, tapi lucu kala canda
yang lebih sering memegang rosario
dibandingkan bb warna hijau
aku mendamba Romo yang lebih banyak mendengar
dibandingkan berujar
aku mendamba Romo yang menampung air mataku
- tanpa ikut menangisi
yang mengubah putus asa menjadi harapan
yang mengajarkan ritual sekaligus spiritual
duuuuh, damba dan inginku banyak, banyak sekali
tapi aku percaya tetap terpenuhi
karena Romoku mau dan mampu selalu memberi
- inilah damba dan doaku, Romoku
eee, masih ada satu lagi
sekali mengenakan jubah, jangan berubah
jangan pernah mengubah, walau godaan mewabah
bahkan sampai ada laut terbelah
kenakan terus jubahmu
itulah khotbah yang hidup
agar aku bisa menjamah
seperti perempuan Samaria pada Yesus Allah Tuhanku
aku mendamba Romo yang menatapku kalem
bersuara adem
"Berkah Dalem ..."

*) dibacakan saat dialog interaktif, di kompleks Gereja St. Fransiskus Asisi, Tebet,Jakarta, 20 Juni 2010

Monday, 12 October 2009

MENEMBUSI TANDA DAN LAMBANG

Teks MENEMBUSI TANDA DAN LAMBANG ini saya ambilkan dari tembusan email Bapak F.A. Wisnu
<fransiskus.wisnu@gmail.com
> di milis santher@yahoogroups. Saya mengajak umat Santa Theresia untuk merenungkan kembali kehadiran Tuhan dalam Ekaristi dan Sakramen Mahakudus... Mari kita berkaca pada sikap dan tindakan Santo Fransiskus Asisi... mungkin kita tidak sehebat orang kudus ini, namun panggilan untuk menjadi dekat dengan Tuhan Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus selalu aktual dan harus kita wujudkan... Mari membuka mata dan telinga hati kita.

Thomas A. Sutadi


Beberapa tahun lalu, di salah satu pulau di Maluku ditemukan seorang serdadu Jepang yang masih bertahan hidup di situ sejak Perang DuniaII. Ia hidup di hutan makan dari hasil hutan dan hasil perburuannya. Ia masih menantikan kembalinya komandannya, karena ia belum tahu bahwa Jepang sudah lama menyerah dan perang sudah lama berakhir.

Yang menjadi masalah untuk tentara Indonesia ialah bagaimana membujuk atau memikat orang itu untuk menyerah. Mereka harus berhati-hati karena samurai si Jepang itu tidak pernah lepas dari badannya.

Akhirnya ada akal yang baik, dua tentara Indonesia menghampiri si Jepang itu, sewaktu serdadu Jepang itu kelihatan mulai mencium kehadiran mereka , salah satu dari mereka menyanyikan lagu “Kimigayo” lagu kebangsaan Jepang, dengan sikap hormat sempurna.

Mendengar lagu kebangsaan negaranya dan melihat bendera tanah airnya, si Jepang itu berdiri tegap memberi hormat kemiliteran. Menjelang berakhirnya lagu Kimigayo, sebelum dia sempat meraih samurainya, seorang serdadu Indonesia yang lain dengan sigap mencengkamnya dari
belakang. Akhirnya mereka berhasil menjinakkannya dan kemudian meyakinkan dia bahwa perang sudah selesai dan Jepang sudah kaya raya, karena itu ia boleh kembali ke negerinya dengan tenang.

Yang menarik dari serdadu Jepang itu ialah kepekaannya yang amat tajam terhadap tanda dan lambang. Sudah puluhan tahun ia berhasil bertahan di hutan, karena itu setiap ada bahaya yang mengancam akan tercium olehnya. Akan tetapi, begitu ia mendengar lagu kebangsaan dan melihat bendera negaranya, ia terserap seluruhnya dalam tanda-tanda itu dan lupa akan semua bahaya yang mengancam.

Lagu “Kimigayo” dan bendera “Matahari Terbit” menggugah rasa kebangsaannya, ia langsung teringat pada Nippon, ia “melihat” Hirohito sang Kaisar. Karena itu, tanpa menimbang lagi ia segera memberi hormat dengan sikap sempurna seorang prajurit Nippon. Bagi dia, lagu
kebangsaan dan bendera itu identik dengan Jepang, ia dengan telinga mendengar lagu dan dengan matanya melihat bendera, akan tetapi dengan hatinya, ia menembusi kedua tanda yang kecil dan terbatas itu dan menemukan kenyataan besar yang ditandakannya, yaitu Jepang, Dai
Nippon, yang untuknya ia bersedia mati, dengan harakiri sekalipun.

Menembusi tanda dan lambang, itulah kiranya yang bisa dikatakan mengenai Fransiskus Asisi, juga dalam sikapnya terhadap Sakramen Ekaristi. Melihat “hosti”, benda kecil yang putih dan tipis, serta “anggur” di altar persembahan, Fransiskus bereaksi dan bergetar. Ia bersujud menyembah, bibirnya bergumam : “Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus”. Matanya memandang kagum, “O Keagungan, O Keluhuran, O Tuhan semesta alam, Allah dan Putra Allah.” Lalu, ia memejamkan mata, menggigit bibirnya menahan rasa haru dan membiarkan arimatanya mengalir dengan sendirinya sampai ke sudut-sudut bibirnya, ia mendesah penuh haru, “O Kedinaan, O Kerendahan, O Kemiskinan, O Kasih. Allah dan Putra Allah menanggalkan segala Keagungan-Nya dan memberikan diri seutuh-utuhnya kepadaku, Ia sudi merendahkan diri untuk mengangkataku, cacing yang hina ini. O Kasih, O Kasih, Kasih...hanya karena
Kasih, demi Kasih, untuk Kasih.”

Dalam tanda lambang yang sederhana itu Fransiskus melihat Kristus yang menghampakan diri mulai dari Bethlehem sampai Kalvari. Ia merasakan getaran kasih Allah yang mencintai sampai sehabis-habisnya, ia menyaksikan Tuhan yang tidak menahan sesuatupun bagi diri-Nya, tetapi
mengorbankan diri habis-habisan untuk keselamatan manusia. Maka, tanda lambang yang sederhana itupun menggerakkan dia untuk bereaksi dan menentukan sikap.

Di altar ada penghampaan diri, maka tidak ada pilihan lain bagiku selain menanggalkan semua harta milik.

Di altar ada perendahan diri, maka tidak ada jalan lain bagiku selain terus menerus menjadi hina dan dina.

Di altar ada perdamaian dan persekutuan, maka tak ada pilihan bagiku selain berusaha menjadi saudara bagi semua mahluk.

Di altar ada kasih, maka tugasku hanyalah menjadi penyalur kasih bagi setiap insan dan mahluk yang tak berhayat sekalipun.

Di altar Ia memberikan diri seutuh-utuhnya bagiku, maka tidak ada jawaban lebih tepat selain bahwa akupun memberikan diriku seutuh-utuhnya bagi Dia dan bagi semua sudara-Nya yang terkecil di sekitarku.

Bagaimana Fransiskus mempu menembusi tanda dan lambang dan langsung menyentuh kenyataan ILAHI yang tak terhingga itu ? Kuncinya hanya satu, yaitu Roh Tuhan.

Tanpa Roh, orang-orang di sekitar Yesus hanya mengenal Dia sebagai “Orang Nazareth Bin Miryam” dan tidak mengenal Dia sebagai Anak Allah.

Tanpa Roh, orang di sekitar altar hanya melihat hosti dan anggur sebagai benda mati dan bukan Allah dan Putra Allah.

Tanpa memiliki Roh, kita tidak dapat dan tidak pantas menyambut, maka nasihatnya adalah, berusahalah untuk memiliki hanya satu, yaitu ROH TUHAN.

(“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” - Luk 11 : 13)

(Kuntum-Kuntum Kecil, Butir-Butir Permenungan Saudara Kelana)

Diposkan oleh Nicolas
Label: Kuntum-kuntum kecil


Wednesday, 7 October 2009

PERAJAM

Catatan:
Di bawah ini adalah tulisan Gunawan Mohammad yang ditulis di http://www.tempoint eraktif.com/ hg/caping/ /2009/09/ 28/mbm.20090928. CTP131488.
id.html dengan judul: Perajam, pada hari Senin, 28 September 2009
Kutipan ini saya dapatkan dari milis canisi83 yang diposting oleh Rm Andri Atmoko OMI, Provinsial OMI Provinsi Indonesia. Rm Andri sempat menulis: apakah para anggota DPRD di beberapa tempat seperti di Aceh Nangro Darusalam juga membaca tulisan ini? Buat Anda: selamat merenungkan... Tuhan memberkati Bapak Gunawan Mohammad!
(Thomas A. Sutadi)


INI sebuah cerita yang telah lama beredar, sebuah kisah yang termasyhur dalam Injil, yang dimulai di sebuah pagi di pelataran Baitullah, ketika Yesus duduk mengajar.

Orang-orang mendengarkan. Tiba-tiba guru Taurat dan orang Farisi datang.
Mereka membawa seorang perempuan yang langsung mereka paksa berdiri di tengah orang banyak.

Perempuan itu tertangkap basah berzina, kata mereka. ”Hukum Taurat Musa memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu,” kata para pemimpin Yahudi itu pula. Mereka tampak mengetahui hukum itu, tapi toh mereka bertanya: ”Apa yang harus kami lakukan?”

Bagi Yohanes, yang mencatat kejadian ini, guru Taurat dan orang Farisi itu memang berniat ”menjebak” Yesus. Mereka ingin agar sosok yang mereka panggil ”Guru” itu (mungkin dengan cemooh?) mengucapkan sesuatu yang salah.

Saya seorang muslim, bukan penafsir Injil. Saya hanya mengira-ngira latar belakang kejadian ini: para pakar Taurat dan kaum Farisi agaknya curiga, Yesus telah mengajarkan sikap beragama yang keliru. Diduga bahwa ia tak mempedulikan hukum yang tercantum di Kitab Suci; bukankah ia berani melanggar larangan bekerja di ladang di hari Sabbath? Mungkin telah mereka dengar, bagi Yesus iman tak bisa diatur pakar hukum. Beriman adalah menghayati hidup yang terus-menerus diciptakan Tuhan dan dirawat dengan cinta-kasih.

Tapi bagi para pemimpin Yahudi itu sikap meremehkan hukum Taurat tak bisa dibiarkan. Terutama di mata kaum Farisi yang, di antara kelompok penganut Yudaisme lain, paling gigih ingin memurnikan hidup sehari-hari dengan menjaga konsistensi akidah.

Maka pagi itu mereka ingin ”menjebak” Yesus.

Tapi Yesus tak menjawab. Ia hanya membungkuk dan menuliskan sesuatu dengan jari-jarinya di tanah. Dan ketika ”pemimpin Yahudi itu terus-menerus bertanya,” demikian menurut Yohanes, Yesus pun berdiri. Ia berkata, ”Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah.

Suasana mendadak senyap. Tak ada yang bertindak. Tak seorang pun siap melemparkan batu, memulai rajam itu. Bahkan ”satu demi satu orang-orang itu pergi, didahului oleh yang tertua.” Akhirnya di sana tinggal Yesus dan perempuan yang dituduh pezina itu, kepada siapa ia berkata: ”Aku pun tak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Tak ada rajam. Tak ada hukuman. Kejadian pagi itu kemudian jadi tauladan:
menghukum habis-habisan seorang pendosa tak akan mengubah apa-apa; sebaliknya empati, uluran hati, dan pengampunan adalah laku yang transformatif.

Tapi bagi saya yang lebih menarik adalah momen ketika Yesus membungkuk dan menuliskan sesuatu dengan jarinya ke atas tanah. Apa yang digoreskannya?

Tak ada yang tahu. Saya hanya mengkhayalkan: itu sebuah isyarat. Jika dengan jarinya Yesus menuliskan sejumlah huruf pada pasir, ia hendak menunjukkan bahwa pada tiap konstruksi harfiah niscaya ada elemen yang tak menetap.
Kata-kata—juga dalam hukum Taurat—tak pernah lepas dari bumi, meskipun bukan dibentuk oleh bumi. Kata-kata disusun oleh tubuh (”jari-jari”), meskipun bukan perpanjangan tubuh. Pasir itu akan diinjak para pejalan: di atas permukaan bumi, memang akan selalu melintas makna, tapi ada yang niscaya berubah atau hilang dari makna itu.

Di pelataran Bait itu, Yesus memang tampak tak menampik ketentuan Taurat. Ia tak meniadakan sanksi rajam itu. Tapi secara radikal ia ubah hukum jadi sebuah unsur dalam pengalaman, jadi satu bagian dari hidup orang per orang di sebuah saat di sebuah tempat. Hukum tak lagi dituliskan untuk siapa saja, di mana saja, kapan saja. Ketika Yesus berbicara ”barangsiapa di antara kamu yang tak berdosa”, hukum serta-merta bersentuhan dengan ”siapa”, bukan ”apa”—dengan jiwa, hasrat, ingatan tiap orang yang hadir di pelataran Bait di pagi itu.

Para calon perajam itu bukan lagi mesin pendukung akidah. Mendadak mereka melihat diri masing-masing. Aku sendiri tak sepenuhnya cocok dengan hukum Allah. Aku sebuah situasi kompleks yang terbentuk oleh perkalian yang simpang-siur. Kemarin apa saja yang kulakukan? Nanti apa pula?

Dan di saat itu juga, si tertuduh bukan lagi hanya satu eksemplar dari ”perempuan-perempuan yang demikian”. Ia satu sosok, wajah, dan riwayat yang singular, tak terbandingkan—dan sebab itu tak terumuskan. Ia kisah yang kemarin tak ada, besok tak terulang, dan kini tak sepenuhnya kumengerti.
Siapa gerangan namanya, kenapa ia sampai didakwa?

Perempuan itu, juga tiap orang yang hadir di pelataran itu, adalah nasib yang datang entah dari mana dan entah akan ke mana. Chairil Anwar benar:
”Nasib adalah kesunyian masing-masing”.

Dalam esainya tentang kejadian di pelataran Baitullah itu, RenĂ© Girard—yang menganggap mimesis begitu penting dalam hidup manusia—menunjukkan satu adegan yang menarik: setelah terhenyak mendengar kata-kata Yesus itu, ”satu demi satu orang-orang itu pergi….” Pada saat itulah, dorongan mimesis—hasrat manusia menirukan yang dilakukan dan diperoleh orang lain—berhenti sebagai faktor yang menguasai perilaku. Dari kancah orang ramai itu muncul individu, orang seorang. ”Teks Injil itu,” kata Girard, ”dapat dibaca hampir secara alegoris tentang munculnya ke-person-an yang sejati dari gerombolan yang primordial.”

Tapi kepada siapakah sebenarnya agama berbicara: kepada tiap person dalam kesunyian masing-masing? Atau kepada ”gerombolan”? Saya tak tahu. Di pelataran itu Yesus membungkuk, membisu, hanya mengguratkan jarinya. Ketika ia berdiri, ia berkata ke arah orang banyak. Tapi sepotong kalimat itu tak berteriak.

*Goenawan Mohamad*

Thursday, 12 March 2009

A DIFFERENT APPROACH TO FASTING

Fasts have a tendency to be oriented toward things like giving up food or television. But there are many other creative ways we can welcome Jesus' healing touch. Here are suggestions you may want to consider.

1. Fast from anger and hatred. Give your family an extra dose of love each day.

2. Fast from judging others.
Before making any judgments, recall how Jesus overlooks our faults.

3. Fast from discouragement.
Hold on to Jesus' promise that He has a perfect plan for your life.

4. Fast from complaining.
When you find yourself about to complain, close your eyes and recall some of the little moments of joy Jesus has given you.

5. Fast from resentment or bitterness!.
Work on forgiving those who may have hurt you.

6. Fast from spending too much money.
Try to reduce your spending by ten percent and give those savings to the poor.

Please forward this to as many as possible and surely, you will be blessed abundantly. Wishing you all Peace, Love, and Happiness during Lent. SMILE – Jesus Loves You!

*Tulisan ini saya dapatkan dari Ibu Evie Sinaulan - Exultate. Semoga berguna bagi warga Santher.
(Thomas A. Sutadi)

Friday, 13 February 2009

A MESSAGE BY GEORGE CARLIN



Isn't it amazing that George Carlin - comedian of the 70's and 80's - could write something so very eloquent...and so very appropriate?

A Message by George Carlin

The paradox of our time in history is that we have taller buildings but shorter tempers, wider Freeways, but narrower viewpoints. We spend more, but have less, we buy more, but enjoy less. We have bigger houses and smaller families, more conveniences, but less time. We have more degrees but less sense, more knowledge, but less judgment, more experts, yet more problems, more medicine, but less wellness.

We drink too much, smoke too much, spend too recklessly, laugh too little, drive too fast, get too angry, stay up too late, get up too tired, read too little, watch TV too much, and pray too seldom.
We have multiplied our possessions, but reduced our values. We talk too much, love too seldom, and hate too often.

We've learned how to make a living, but not a life. We've added years to life not life to years. We've been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street to meet a new neighbour. We conquered outer space but not inner space. We've done largerthings, but not better things.

We've cleaned up the air, but polluted the soul. We've conquered the atom, but not our prejudice. We write more, but learn less. We plan more, but accomplish less. We've learned to rush, but not to wait. We build more computers to hold more information, to produce more copies than ever, but we communicate less and less.

These are the times of fast foods and slow digestion, big men and small character, steep profits and shallow relationships. These are the days of two incomes but more divorce, fancier houses, but broken homes. These are days of quick trips, disposable diapers, throwaway morality, one night stands, overweight bodies, and pills that do everything from cheer, to quiet, to kill. It is a time when there is much in the showroom window and nothing in the stockroom. A time when technology can bring this letter to you, and a time when you can choose either to share this insight, or to just hit delete...

Remember, spend some time with your loved ones, because they are not going to be around forever.

Remember, say a kind word to someone who looks up to you in awe, because that little person soon will grow up and leave your side.

Remember, to give a warm hug to the one next to you, because that is the only treasure you can give with your heart and it doesn't cost a cent.

Remember, to say, 'I love you' to your partner and your loved ones, but most of all mean it. A kiss and an embrace will mend hurt when it comes from deep inside of you.

Remember to hold hands and cherish the moment for someday that person will not be there again.

Give time to love, give time to speak! And give time to share the precious thoughts in your mind.

AND ALWAYS REMEMBER:
Life is not measured by the number of breaths we take, but by the moments that take our breath away.

George Carlin

Gratitude is absolutely the way to bring more into your life

*teks ini kiriman Bapak Ign Herry Djoko lewat milis... Semoga berguna untuk semua.
Terima kasih, Pak Herry...
(Thomas A. Sutadi)

Thursday, 12 February 2009

Tapaking Kuntul Anglayang


Ini email Pak Herry di milis Santher tanggal 21 Januari 2009, dan kita post-kan di blog kita supaya bisa dibaca lebih banyak orang... Matur nuwun, Pak Herry.

Lurs,
Hanya ingin berbagi saja. Ini ada tulisan Rm Sindunata, saya coba menterjemahkannya;
mohon maaf kalau terjemahannya masih grothal-grathul. Saya ini, ngakunya saja "wong yogyo" tapi gak bisa "boso Jowo". Oleh karena itu, kalau ada yang salah mohon dibetulkan.
Mudah-mudahan bermanfaat.
Matur nuwun & Berkah Dalem

herry

catatan :
Tulisan ini dulu saya dapat dari teman yg tidak bisa bhs Jawa, meminta tolong saya untuk menterjemahkannya. Saya tidak minta ijin Penulisnya untuk menterjemahkannya,
mudah-mudahan tidak menjadi masalah.

Tapaking Kuntul Anglayang]
(Tapak kaki burung kuntul yang sedang terbang/melayang)

Dening/Oleh : Sindunata

GOLEKANA tapake kuntul anglayang! Ngendi ana? Lan sapa wonge sing bisa
CARILAH tapak kaki burung kuntul yang sedang terbang/melayang! Mana ada? Siapa orangnya yang bisa

nggoleki? Mbok mubenga nganti muser-muser, kuntule dhewe, yen lagi
mencari? Meskipun berputar-putar sampai ”pusing”, burung kuntul-nya sendiri kalau sedang

nglayang ing awang-awang, ya ora bakal bisa nggoleki tapake. Apa maneh manungsa.
terbang/melayang di angkasa (di awang-awang), ya tidak akan bisa mencari tapak kakinya. Apalagi manusia !

Diperese nganti asat keringete, diputera nganti mumet akale, langka
Meskipun diperas keringatnya sampai kering, meskipun akalnya diputar sampai pusing, jarang

manungsa bisa meruhi tapaking kuntul anglayang mau.
manusia bisa melihat tapak kaki burung kuntul yang sedang terbang/melayang

Pancen tetembungan mau ora bakal tinemu ing nalar. Tetembungan mau klebu
Memang perkataan tersebut tidak akan mungkin masuk di akal. Perkataan tersebut termasuk

kawruhing kasampurnan, sing isbate mung bisa dionceki srana tirakat lan
pengetahuan tentang kesempurnaan, yang intinya hanya dapat dikupas dengan jalan tirakat dan

laku. Mula yen arep nggayuh kawruh tapaking kuntul anglayang mau, manungsa
laku. Oleh karena itu, kalau mau menggapai pengetahuan tentang tapak kaki burung kuntul yang sedang terbang/melayang tersebut, manusia

kudu nyuwungake kekarepan lan nalare. Lire, aja dheweke gondhelan ing
mengosongkan kemauan dan nalarnya (pikiran/akalnya). Dengan demikian, janganlah dia berpegang pada

sakabehing gegondhelan sing saiki digondheli. Padha sawangen kuntul sing
semua pegangan yang sekarang dipegangi. Coba lihatlah burung kuntul yang

mabur dhuwur ing awang-awang! Kuntul mau ora tau nyawang tilas tapake.
terbang tinggi di angkasa ! Burung kuntul tersebut tidak pernah melihat tapak kakinya.

Merga pancen ing awang-awang mau tapake ya ora ana. Kuntul mau bisane
Karena memang di angkasa tersebut, tapak kakinya tidak ada. Burung kuntul tersebut bisanya

mung miber. Lan bisane miber, merga awake kesangga, sanadyan ora ana sing nyangga.
cuma terbang. Dan dia bisa terbang karena tubuhnya tersangga, meskipun tidak ada yang menyangga.

Kesangga ning rasane ora ana sing nyangga, ya kuwi karep sing winengku dening
Tersangga tetapi rasanya tidak ada yang menyangga, yaitu kemauan yang dimiliki

isbating ”golekana tapake kuntul anglayang! Lan sepisan oleh
isbatnya ”carilah tapak burung kuntul yang sedang melayang”. Dan sekali

maneh, ngrasaake kesangga sanadyan ora ana sing nyangga bisa kelakon, yen
lagi merasakan tersangga meskipun tidak ada yang menyangga dapat terjadi, apabila

manungsa bisa nyuwungake dhiri saka sakabehing gondhelaning uripe. Aja maneh
manusia dapat mengosongkan diri dari semua pegangan hidupnya. Jangankan hanya

mung raja brana, drajat lan pangkat, cekelan lan gamaning urip wae kudu
harta benda, drajat dan pangkat; pegangan dan senjatanya hidup juga harus

diculake, yen manungsa pancen arep ngalami dhirine iki sejatine
dilepaskan, kalau manusia memang mau mengalami dirinya ini, sebenarnya

kesangga sanadyan ora ana sing nyangga.
tersangga meskipun tidak ada yang menyangga.

Kawruh kasampurnan iki bisa diulur luwih dawa. Kaya dene aku bisa
Pengetahuan tentang kesempurnaan ini bisa diulur lebih panjang. Seperti kalau aku bisa

ngrasakake kesangga sanadyan ora ana sing nyangga merga aku suwung saka
merasakan tersangga meskipun tidak ada yang menyangga karena aku kosong dari

sakabehing kekarepanku, aku uga bisa ngraksakake menawa aku iku duweni
semua kemauanku, aku juga bisa merasakan kalau aku ini memiliki

sakabehing yen aku iki ora duwe apa-apa. Utawa meruhi sakabehe, merga
segalanya apabila aku tidak punya apa-apa. Atau aku dapat melihat semuanya, karena

aku ora weruh apa-apa. Apa dene, aku iki ngrasake menawa aku ini temen ana,
aku tidak melihat apa-apa. Demikian juga, aku merasakan kalau aku ini benar-benar ada

merga aku rila menawa aku ora ana.
karena aku rela kalau aku tidak ada.

Yen kawruh mau wis winengku, sejatine aku wis lumebu ing dating
Apabila pengetahuan tadi sudah dapat dimiliki/dijangkau, maka/sejatinya aku sudah masuk dalam sifat/zat

Pangeran sing murbeng jagad raya iki. Ya dating Pangeran mau sing akarya nganti
Tuhan yang Pencipta Alam Raya ini. Tuhanlah yang berkarya sampai

Aku kesangga sanadyan ora ana sing nyangga. Ya dat mau sing murugake aku
aku tersangga meskipun tidak ada yang menyangga. Tuhanlah yang menyebabkan aku

Duweni sakabehe sanadyan aku ora duwe apa-apa. Lan ya dat mau sing anyipta aku
memiliki semuanya meskipun aku tidak punya apa-apa. Dan Tuhanlah yang menciptakan aku
ana sanadyan aku ora ana.
ada meskipun aku tidak ada

Aku, manungsa sing kebak ing kasekengan lan kajiret ing
Aku, manusia yang penuh dengan kelemahan dan terjerat oleh

bandha-bandhuning kadonyan, tangeh bisa ngrasuk ing dating Pangeran mau kanthi
harta benda duniawi, tidak mungkin bisa masuk ke dalam sifat/zat Tuhan dengan

sampurna.
sempurna

Bisane mung icip-icip. Mula mangkene ature Suluk Sujinah:
Bisanya hanya ”mencicipi”. Maka demikianlah (seperti inilah) bunyi Suluk Sujinah :

” ''Dene mangan sapulukan tegesipun, mung Allah kacipta, kalawan nyandang sasuwir, pujinira kawayang sajroning driya.” '' Peribasane, sanadyan mung sapulukan anggonku mangan, aku wis krasa tuwuk,

”Peribahasanya, meskipun aku hanya makan satu suap, aku sudah merasa kenyang, anggere Pangeran tansah cinipta ing batinku. Lan sanadyan mung sasuwir anggonku
asalkan Tuhan selalu tercipta (ada) dalam batinku. Dan meskipun aku hanya memakai selembar pakaian


nyandang, aku wis jangkep bebusanan, anggere Pangeran tansah pinuji ing batinku.
aku sudah merasa berpakaian lengkap, asal Tuhan senantiasa terpuji dalam batinku.

Icip-icip sapulukan, nyandhang penganggo sasuwir, iku mau wis turah-turah tumraping uripku,
Mencicipi satu suap, memakai pakaian satu lembar, itu sudah berlebihan untuk hidupku,

anggere dating Pangeran sing dakicipi, lan busanane dat mau sing
asalkan Tuhan yang aku ”cicipi” dan sifat Tuhan tadi yang menjadi pakaianku

daksandang”.
sandanganku

Mula wewadining ''tapaking kuntul anglayang'' lan ''kesangga ora
Oleh karena itu, rahasia ”tapaking kuntul anglayang” (”tapak kaki burung kuntul yang sedang melayang”) dan ”kesangga ora sinangga” (”tersangga meskipun tidak disangga”)

sinangga'' iku sejatine ya pasrah ing Pangeran. Nanging aku iki manungsa sing urip
itu sebenarnya/sejatinya ya ... pasrah (menyerahkan diri) kepada Tuhan. Akan tetapi aku ini manusia yang hidup

ing donya. Mula pasrah ing Pangeran ora liya tegese kejaba menehake awakku
di dunia. Oleh karena itu, pasrah/menyerahkan diri kepada Tuhan tidak lain berarti menyerahkan ragaku/badanku/tubuhku

kanggo pepadaku. Dating Pangeran kang murugake aku bisa kaya kuntul
untuk sesamaku. Sifat Tuhan yang menyebabkan saya bisa seperti kuntul

anglayang tanpa mikirake piye tapak lan tilase nembe bisa dakrasakake,
melayang tanpa harus memikirkan bagaimana tapak/jejak kaki serta bekasnya baru bisa aku rasakan.

yen aku wani muluk bareng karo pepadaku, supaya pepadhaku sing kurang
Apabila aku berani makan bersama sesamaku, agar supaya sesamaku yang kurang

mangan bisa mangan, lan aku wani nyandhang sasuwir amrih pepadhaku sing kurang
makan juga bisa makan, dan aku juga berani memakai pakaian selembar, agar supaya sesamaku yang kurang

sandhang uga bisa nyandhang.
sandang juga bisa berpakaian.

Kawistara, kawruh ''tapaking kuntul anglayang'' sejatine dudu kawruh
Jelas bahwa pengetahuan ”tapaking kuntul anglayang” sebenarnya bukan pengetahuan

kang dakik-dakik, mencit tan bisa ginayuh. Ora, kawruh iku kawruhe urip
yang ”njlimet”/sulit, sangat tinggi yang tidak dapat dicapai. Tidak, pengetahuan tersebut adalah pengetahuan hidup

padinan, kepriye anggonku wani suwung ing saben dinane. Yaiku urip sing wani
sehari-hari, bagaimana aku berani ”kosong” (”mengosongkan diri”) setiap harinya. Yaitu hidup yang berani

bagi binagi, sanadyan kayane ora ana sing dibagi. Wani mangan sapulukan
berbagi, meskipun terasa sepertinya sudah tidak ada yang dibagi lagi. Berani makan satu suap

bareng sing luwe. Wani nyandhang sasuwir bareng sing kecingkrangan. Ya ana ing
bersama-sama yang lapar. Berani memakai pakaian selembar bersama-sama yang serba kekurangan. Ya ada pada

pepadhaku sing luwe lan kecingkrangan bakal tinemu tapaking welas
sesamaku yang lapar dan serba kekurangan-lah akan dijumpai tapaknya/jejaknya belas

asihku.
kasihku

Lan bungah pepujining pepadhaku merga welas asihku mau sing bakal
Dan, kegembiraan hati serta pujian sesamaku karena belas kasihku yang akan

ngumbulake aku kaya kuntul ing awang-awang sing ora nggagas arep
mengangkat diriku seperti burung kuntul di angkasa yang tidak memikirkan akan

nggoleki tapake maneh. Linuwaran saka sakabehing jejiretan, mardika mabur ning
mencari tapak/jejak kakinya lagi. Dibebaskan dari segala jerat, merdeka terbang di

awang-awang iku kepenak lan entenge tan kena kinaya ngapa. Ya gene aku
angkasa itu sangat enak, dan ringannya tidak dapat dibayangkan seperti apa. Mengapa aku

isih ribut nggoleki tapak tilase uripku maneh?
masih ribut mencari jejak bekas hidupku lagi

CINTA DAN PERKAWINAN

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta?

Bagaimana saya bisa menemukannya? "

Gurunya menjawab,"Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik).

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting - ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"

Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya? "

Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"

Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi di kesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"

Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan".


Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan... tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya. Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, Itulah kesempatan.Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuat kita tertarik, Itu bukan pilihan itu kesempatan.Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan.. Itupun adalah kesempatanBila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.....Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi Itu adalah pilihanBahkan ketika kita menyadari Bahwa masih banyak orang lain Yang lebih menarik,pandai, dan kaya Daripada pasangan kita dan tetap kita memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan .....Perasaan cinta, simpatik, tertarik. Datang bagai kesempatan pada kita.. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan.Berbicara tentang pasangan jiwa, Ada suatu kutipan dari film yang Mungkin sangat tepat : Nasib membawa kita bersama. Tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil ..Pasangan jiwa bisa benar-benar ada....Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang Yang diciptakan hanya untuk kitaTetapi tetap berpulang pada kita untuk melakukan pilihan apakah kita ingin melakukan sesuatu untuk mendapatkannya atau tidak ......Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, tetap mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita adalah pilihan yang harus kita lakukan.Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai. TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang Sempurna.

(Tulisan ini dikirim oleh FX. Kabrini Suryanita melalui email kepada saya dan saya posting di blog untuk menjadi permenungan bersama. Salam... Thomas A. Sutadi)