Showing posts with label Kor Santa Theresia Bogor Raya Permai. Show all posts
Showing posts with label Kor Santa Theresia Bogor Raya Permai. Show all posts

Monday, 2 September 2019

KOR SANTHER PADA MISA BERSAMA NUNCIO


Pada hari Minggu, 1 September 2019 Kor Santher (Santa Theresia) Bogor Raya Permai bertugas pada Misa Minggu Biasa XXII dalam bahasa Latin dengan nyanyian Gregorian di Kapel 12 Rasul Kedutaan Besar Tahta Suci Vatikan di Jakarta. Misa yang dimulai pada pukul 11.00 ini dipimpin oleh Nuncio untuk Indonesia: Mgr Piero Pioppo.



Rombongan kor Santher, yang berangkat dari Bogor Raya Permai dengan bus dan kendaraan-kendaraan pribadi, terdiri dari sekitar 29 anggota kor dan 30-an umat Santher serta umat dari lingkungan lain di Paroki St Ignatius Loyola Semplak serta Paroki BMV Katedral Bogor. Beberapa sahabat Santher dari lingkungan lain membantu tugas kor Santher. Mereka antara lain DS Ario Kusumo Bawono (Bojong – Katedral BMV), Simon Supratman (Katedral BMV), Felix Kadtebalubun, Hilarius Kristantyono dan K. Jati Purnomo.



Tugas kor di bawah koordinator Edward Hari Purwonugroho, dirigen RM Yeni Adyani, organist Sri Thehamihardja, Pemazmur Dibyaning Btari, Solis Valeria Andani dan didukung para soli suara pria dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Kebetulan ada sejumlah anggota kor OMK dari Paroki MBSB Kota Wisata yang diajak oleh pendampingnya, yaitu Yohanes Mardjoko, untuk terlibat bernyanyi di bangku umat.



Lagu-lagu yang dinyanyikan telah ditentukan oleh pihak seksi liturgi kedutaan sebelumnya. Sebagian lagu diambil dari Graduale Romanum dan sebagian lagi dari Graduale Simplex. Susunan lagunya adalah: Introitus (Miserére mihi, Dómine), Psalmus Responsorius (Intende deprecationem meam), Alleluia (Alleluia), Offertorium (Illumina Oculos Meos), Communio (Domine Memorabor), Hymnus ad Beatam Mariam (Salve Regina) dan Cantus ad Recessionem (Christus Vincit). Kor menggunakan ordinarium misa de Angelis.

                                             

Sebelum berkat penutup, Nuncio menyampaikan ucapan terima kasih dengan beberapa kalimat sebagai berikut:



"Iwould like to thank from my heart and all of us unite thank you, choir of St Theresia Paroki Sancto Ignatius Loyola dari Bogor… because your songs and chants sustain us very strongly and very spiritually in our prayer of this Sunday…. I would like to pray for you and to assure you of our prayers… and I will accome whenever you may visit us again to sustain us with your beautiful singing… Also your bahasa Latin is very good… the pronunciation is very good..."
 

Sesudah tugas kor selesai, Nuncio keluar dari sakristi dan mengajak kor dan sebagian warga Santher untuk berfoto bersama di depan Panti Imam. 
Pengalaman tugas di Kapel Kedutaan Vatikan ini merupakan sesuatu yang berharga bagi Kor Santher. Semoga pengalaman ini memacu semangat pelayanan di Paroki St Ignatius Loyola Semplak Keuskupan Bogor.

Thursday, 25 July 2019

UMAT SANTHER DAN SENI MUSIK LITURGIS


Pengantar:
Ada baiknya bahwa umat Lingkungan St Theresia Bogor Raya Permai, khususnya yang bergabung dalam paduan suara, memahami apa yang disebut sebagai music liturgis, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari liturgy itu sendiri. Berikut dikutipkan sejumlah tulisan yang bersumber dari
Panduan Bulan Liturgi Keuskupan Malang, 2017. Terima kasih kepada Komisi Liturgi Keuskupan Malang.

Musik liturgis sebagai karya seni (bukan tontonan atau pertunjukkan) sebenarnya membantu kita semua sebagai peraya untuk mengarahkan seluruh diri kepada inti misteri yang dirayakan dalam liturgi, yaitu kepada Tuhan sendiri sebagai sumber segala karya seni.

Oleh karena itu cara-cara yang mengalihkan perhatian kita kepada hal lain atau kepada tokoh tertentu perlu diwaspadai. Bisa saja kita memilih artis sebagai pemazmur atau penyanyi solo, tetapi ketika ia menjalankan tugasnya tidak boleh ditonjolkan keartisannya, tetapi fungsi liturgisnya. Memberikan aplaus kepada si pemazmur atau solis karena suaranya yang bagus lebih merupakan bagian dari suatu acara panggung pertunjukkan. Demikian pula pembawa homili yang memilih dan membawakan lagu yang sedang populer di tengah atau di akhir homili (karena ada kaitan dengan tema homili) yang langsung ditanggapi oleh umat dengan tepuk tangan meriah, perlu dipertimbangkan apakah hal seperti itu mempunyai fungsi atau makna liturgis. Padahal ketika imam menyanyikan Prefasi atau Kisah Institusi dalam Doa Syukur Agung dengan suara yang bagus tidak diberi aplaus.

Pertimbangan yang sama dapat kita pakai untuk menilai kebiasaan koor menyanyikan semua nyanyian selama perayaan liturgis. Sebetulnya koor dengan dirigen yang bagus sungguh berfungsi liturgis kalau dapat membantu semua peraya yang lain untuk menyanyi bersama dengan lebih baik seperti atau mendekati cara koor menyanyi. Kalau dari awal sampai akhir semua nyanyian dibawakan hanya oleh koor, meskipun semuanya sangat mempesona, sebetulnya telah mengurangkan maknanya sebagai musik/nyanyian liturgis. Perlu ada suatu pembagian yang lebih simbang dalam hal ini.

Semoga umat Santher dapat terlibat dalam perayaan-perayaan liturgi dengan nyanyian-nyanyian liturgis dan tepat sehingga semua perayaan itu membuat iman umat berakar dan bertumbuh serta menghasilkan buah yang berlimpah.

Tuesday, 13 November 2018

MISA DALAM BAHASA LATIN DI GEREJA ST IGNATIUS LOYOLA SEMPLAK NOVEMBER 2018

Gereja St Ignatius Loyola Semplak Keuskupan Bogor menyelenggarakan misa dalam bahasa Latin (Novus Ordo) dengan nyanyian-nyanyian Gregorian bahasa Latin sebanyak tiga kali dalam setahun. Misa diselenggarakan antara lain dalam rangka melestarikan tradisi liturgi Ritus Romawi. Mengingat misa diselenggarakan dalam bahasa Latin -walaupun tidak semua diselenggarakan dalam bahasa Latin seperti pada bagian kata pengantar, bacaan-bacaan KS, homili, doa umat dan pengumuman- umat diberi tahu melalui pengumuman satu atau dua minggu sebelumnya agar mereka yang tidak menyukai misa ini dapat mengikuti misa hari Sabtu sore atau misa minggu pagi yang pertama.

Seiring dengan perjalanan waktu, jumlah umat yang mengikuti misa dalam bahasa Latin ini tetap besar. Pada hari Minggu 11 November 2018 kemarin, misalnya, jumlah umat ternyata melebihi perkiraan. Hal ini dibuktikan antara lain dengan terisinya semua kursi yang disediakan oleh petugas liturgi dan lamanya waktu ritus komuni sehingga petugas kor, yaitu Kor Schola Cantorum Gregorianum Bogorensis (SCB), harus menyanyikan dua lagu komuni yang durasinya sangat panjang. Hal ini menandakan bahwa walaupun umat tidak dapat memahami keseluruhan misa dalam bahasa Latin, minat untuk mengikuti misa dalam bahasa Latin ini tetap tinggi.

Misa dalam bahasa Latin dengan nyanyian Gregorian pada hari Minggu 11 November 2018 pk 8.30 di Gereja St Ignatius Loyola Semplak dipimpin oleh Romo Benedictus Harry Susanto yang selama ini melayani umat di lingkungan AURI. Sebenarnya bagi Romo Harry, tugas ini berat karena beliau hanya menggantikan tugas seorang imam lain yang berhalangan. Romo Harry baru menerima teks misanya pada hari Sabtu 10 November pk 23.30 dan baru pada saat itulah beliau mulai mempelajarinya. Jadi, bagi Romo Harry, ini adalah misa dalam bahasa Latin (novus ordo) pertama yang beliau pimpin. Beliau tidak putus asa; tidak patah arang, tidak menyerah; beliau imam yang siap melayani. Terberkatilah Romo Benedictus Harry Susanto.

Dalam tugasnya, kor SCB dibantu oleh beberapa rekan dari Kor Santa Theresia Bogor Raya Permai, yaitu Bp Ichwan, Bp Jack dan Bp Edo, dan dua orang rekan dari Kor Gregorian St Mikael yaitu Pak Agung dan Mas Anton. Kor SCB berharap bahwa di masa yang akan datang akan ada lebih banyak orang muda yang bergabung untuk melayani misa-misa dalam bahasa Latin di Katedral BMV, Gereja St Ignatius Loyola Semplak dan paroki-paroki lainnya.

Monday, 10 September 2018

TUGAS KOR SANTHER DALAM MISA BERBAHASA LATIN DENGAN NYANYIAN GREGORIAN


Tidak lama sesudah diangkat sebagai Pastor Paroki St Ignatius Loyola Semplak, Romo Antonius Dwi Haryanto menghendaki agar di gereja St Ignatius Loyola diadakan misa-misa dalam bahasa Latin dengan diiringi nyanyian-nyanyian Gregorian dalam bahasa Latin. Bagi sebagian besar praktisi liturgi dan music liturgi paroki, ini menjadi merupakan tantangan serius dan berat.

Tujuan diselenggarakannya misa tersebut antara lain adalah untuk memelihara, merawat dan mengembangkan Tradisi Liturgi Ritus Romawi. Nyanyian Gregorian dipilih karena nyanyian ini adalah nyanyian khas Gereja Katolik Ritus Romawi. Untuk ini Pengurus Bidang Liturgi, khususnya Seksi Musik Liturgi, membuat buku pedoman dan Ordo Missae (Tata Perayaan Ekaristi)-nya dengan mencontoh apa yang telah dikerjakan oleh Seksi Liturgi Paroki Katedral Bogor.

Dalam satu tahun biasanya dijadwalkan dua sampai tiga kali misa khusus tersebut. Sejak tahun 2017, sudah beberapa kali Kor Santher bertugas dalam bisa berbahasa Latin dengan lagu-lagu Gregorian berbahasa Latin di Gereja St Ignatius Loyola Semplak. Semua dapat dijalani dengan lancer.

Sedangkan di Katedral BMV, sejak tahun 2010 setiap dua bulan sekali ada misa seperti ini. Sejak tahun 2013 Kor Santher sudah beberapa kali bertugas dalam misa seperti ini di Katedral. Kor Santher adalah satu-satunya kor lingkungan di luar Paroki BMV yang secara rutin bertugas dalam misa berbahasa Latin dengan nyanyian Gregorian di Katedral BMV.

Pada hari Minggu, 26 Agustus 2018  yang lalu, Kor Santher juga bertugas di Gereja St Ignatius Loyola Semplak dalam misa berbahasa Latin dengan nyanyian Gregorian pada misa pk 8.30. Dengan jumlah penyanyi hanya 15 orang, ditambah satu dirigen dan satu organis, kor dapat bertugas dengan lancar. Puji Tuhan. Kelancaran itu dapat dicapai lewat latihan rutin dan sungguh-sunggh.

Meskipun hanya unisono atau satu suara, lagu-lagu Gregorian selalu memerlukan waktu dan perhatian yang lebih agar dirigen, pengiring dan anggota kor dapat menguasainya. Selama ini Kor Santher menggunakan nyanyian dari sumber-sumber resmi seperti Graduale Romanum, Graduale Simplex, Lux et Origo dan Puji Syukur. Untuk mempermudah latihan, sejumlah nyanyian terpaksa harus ditransposisikan dari not Gregorian ke dalam not angka. Namun ada beberap anggota yang lebih suka menggunakan not asli Gregorian yang bagi mereka lebih mudah. 

Biasanya, Bp Edward Purwonugroho akan membagikan teks-teks nyanyian, khususnya proprium, lalu Ibu Yeni, dirigen Kor Santher,akan merekam suara sendiri saat menyanyikan lagu-lagu Proprium tersebut dan menyebarkanluaskan rekaman itu dalam grup WA Kor Lingkungan Santa Theresia Bogor Raya Permai. Semua anggota mendengarkannya, melatihnya sendiri di rumah, dan pada saat berlatih bersama, dirigen atau pelatih tinggal memoles penguasaan lagunya supaya terdengar memiliki “cengkok” atau gaya Gregorian.

Semoga Kor Santher dapat terus melayani dengan semangat yang menyala-nyala. Ad maiorem Dei gloriam.