Showing posts with label Perang Melawan Virus Corona. Show all posts
Showing posts with label Perang Melawan Virus Corona. Show all posts

Saturday, 21 March 2020

PENANGANAN WABAH VIRUS CORONA OLEH PEMERINTAH (1)


Transkrip Keterangan Pers Presiden Republik Indonesia

Istana Merdeka, Jakarta
20 Maret 2020

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian sebangsa dan se-Tanah Air,

Dari hari ke hari kita telah melakukan langkah-langkah cepat dalam menangani penyebaran Covid-19 ini yang telah melanda lebih dari 180 negara di dunia. Saya tegaskan lagi bahwa kita harus saling mengingatkan untuk disiplin mengikuti protokol kesehatan dalam mengurangi penyebaran Covid-19. Jangan ragu untuk menegur seseorang yang tidak disiplin dalam menjaga jarak, tidak mencuci tangan, dan abai menjaga kesehatannya. Bagi yang terbukti positif terinfeksi Covid-19 atau menduga diri ada kemungkinan terinfeksi, segera isolasi diri dan menjaga kesehatan.

Saya minta kepada daerah dan lingkungan yang belum terinfeksi Covid-19 untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat agar mengurangi resiko penularan virus korona. Dan kepada daerah dan lingkungan yang telah ada terinfeksi, agar membantu saudara-saudara kita yang terinfeksi untuk bisa mengisolasi diri dan memberikan bantuan yang memadai.

Hari ini pemerintah telah mulai melakukan rapid test sebagai upaya untuk memperoleh indikasi awal apakah seseorang positif terinfeksi Covid-19 atau kah tidak. Pemerintah memprioritaskan wilayah yang menurut hasil pemetaan menunjukkan indikasi yang paling rawan terinfeksi Covid-19. Selain itu, pemerintah telah memutuskan untuk melakukan desentralisasi tes yang memberikan kewenangan kepada laboratorium-laboratorium yang telah ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan. Pemerintah juga menyiapkan obat dari hasil riset dan pengalaman beberapa negara agar bisa digunakan untuk mengobati Covid-19 ini sesuai dengan resep dokter. Obat tersebut akan sampai kepada pasien yang membutuhkan melalui dokter keliling dari rumah ke rumah, melalui rumah sakit dan puskesmas di kawasan yang terinfeksi. Saya sudah minta kepada BUMN farmasi yang memproduksi ini untuk memperbanyak produksinya.

Pemerintah juga sedang mempersiapkan infrastruktur-infrastruktur pendukung yaitu rumah isolasi dan rumah sakit. Wisma Atlet Kemayoran siap dijadikan rumah sakit darurat Covid-19 dan juga sebagai rumah isolasi pada nanti, (hari) Sabtu malam (tanggal) 21 Maret 2020. Pulau Sebaru dan Pulau Galang juga disiapkan untuk menjadi ruang karantina dan observasi dan isolasi. Untuk Pulau Galang akan selesai dibangun pada Sabtu, 28 Maret 2020. Kapasitas rumah sakit rujukan akan terus ditingkatkan dan ditambah, baik dari sisi ruang, dari sisi peralatan, obat, dan SDM. Rumah sakit TNI, rumah sakit Polri, dan rumah sakit BUMN yang ada di daerah-daerah terinfeksi juga telah disiapkan sebagai rumah sakit Covid-19. Rumah sakit swasta juga akan diajak serta untuk berpartisipasi dan ditingkatkan kemampuannya.

Saya akan menggerakkan seluruh kekuatan pemerintah dan kekuatan negara dan bangsa untuk mengatasi kesulitan ini, baik permasalahan kesehatan dan masalah sosial ekonomi yang mengikutinya.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.

Terima kasih.

Wassalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****
Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Presiden

KEPUTUSAN PENITENSIARI APOSTOLIK TENTANG INDULGENSI PENUH SEHUBUNGAN DENGAN WABAH VIRUS COVID-19

Karunia indulgensi khusus diberikan kepada umat yang sedang menderita penyakit COVID-19, yang umum dikenal sebagai virus Corona, juga bagi para petugas kesehatan, kerabat mereka, dan semua orang yang merawat mereka dalam kapasitas apa pun.


“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Rm 12:12). Kata-kata yang ditulis oleh Santo Paulus kepada Gereja Roma bergema di sepanjang sejarah Gereja dan mengarahkan penilaian umat beriman dalam menghadapi segala macam penderitaan, penyakit, dan malapetaka.

Saat sekarang ini segenap umat manusia sedang mengalami - terancam oleh penyakit yang tidak kasat mata dan berbahaya, yang selama beberapa waktu dengan arogan telah memasuki pelbagai bentuk kehidupan setiap orang, ditandai hari demi hari oleh ketakutan yang menyakitkan - ketidakpastian-ketidakpastian baru serta, terutama, secara bersama-sama penderitaan jasmani dan moral.


Mengikuti teladan Sang Guru Ilahinya, Gereja selalu peduli untuk merawat orang-orang yang sakit. Seperti ditunjukkan oleh Santo Yohanes Paulus II, nilai penderitaan manusia ada dua : “adikodrati dan, sekaligus, manusiawi. Penderitaan manusia adikodrati, karena berakar pada misteri ilahi penebusan dunia, dan juga sangat manusiawi, karena di dalamnya manusia menemukan dirinya, kemanusiaannya, martabatnya, dan perutusannya” (Surat Apostolik Salvifici Doloris, 31).

Pada hari-hari terakhir ini, Paus Fransiskus juga mewujudkan kedekatan kebapaannya dan kembali mengajak untuk terus-menerus mendoakan orang-orang yang sakit akibat virus Corona.

Agar semua orang yang menderita COVID-19, tepatnya dalam misteri penderitaan ini, dapat menemukan kembali “keserupaan dengan penderitaan penebusan Kristus (Surat Apostolik Salvifici Doloris, 30), Penitensiari Apostolik, ex Auctoritate Summi Pontificis, memercayai sabda Kristus Tuhan dan mempertimbangkan dengan semangat iman epidemi yang sekarang sedang berlangsung, menjalaninya dengan semangat pertobatan pribadi, menganugerahkan karunia Indulgensi menurut ketentuan berikut.

Indulgensi penuh diberikan kepada umat beriman yang sakit akibat virus Corona, dikarantina atas perintah Otoritas Kesehatan di rumah sakit atau di rumah mereka sendiri, jika, dengan semangat terlepas dari dosa apapun, dipersatukan secara rohani melalui media dengan perayaan Misa Kudus, doa Rosario Suci, praktek kesalehan Jalan Salib atau segala bentuk devosi lainnya, atau jika setidaknya mereka mendoakan Syahadat, Bapa Kami dan doa kesalehan kepada Santa Perawan Maria, mempersembahkan pencobaan ini dengan semangat iman kepada Allah dan semangat amal kasih kepada saudara-saudara seiman, dan berkeinginan untuk memenuhi syarat yang diperlukan (Pengakuan Sakramental, Komuni Ekaristi, dan mendoakan ujud Paus), indulgensi penuh dimungkinkan bagi mereka.

Para petugas kesehatan, kerabat mereka, dan semua orang yang, mengikuti teladan Orang Samaria yang Baik Hati, yang membuka diri mereka terhadap resiko infeksi, merawat orang-orang yang sakit akibat virus Corona, seturut kata-kata Sang Penebus Ilahi : "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13), juga akan mendapatkan karunia indulgensi penuh dalam kondisi yang sama.

Selain itu, Penitensiari Apostolik tanpa ragu juga menganugerahkan, dengan kondisi yang sama, indulgensi penuh pada kesempatan epidemi global saat ini, kepada umat beriman yang mengunjungi Sakramen Mahakudus atau melakukan Adorasi Ekaristi, atau berdoa Rosario Suci, praktek kesalehan Jalan Salib, atau mendoakan kaplet Kerahiman Ilahi (Koronka), memohon kepada Allah Yang Mahakuasa untuk mengakhiri epidemi, melegakan orang-orang yang menderita, dan keselamatan kekal bagi orang-orang yang telah dipanggil Tuhan.

Gereja mendoakan orang-orang yang tidak dapat menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit dan Viatikum, mempercayakan mereka masing-masing dan mereka semua kepada Kerahiman Ilahi, dalam kebajikan Para Kudus, dan menganugerahkan indulgensi penuh pada saat kematian selama mereka berkelakuan sebagaimana mestinya dan telah mendoakan beberapa doa selama hidup mereka (dalam hal ini, Gereja menyediakan tiga syarat yang diperlukan). Untuk mendapatkan indulgensi ini, penggunaan salib (ber-korpus) dianjurkan (bdk. Buku Pedoman Indulgensi, no. 12).

Semoga Santa Perawan Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja, Kesehatan Orang Sakit dan Pertolongan Orang Kristen, Pembela kita, membantu umat manusia yang sedang menderita, mengenyahkan dari diri kita keburukan epidemi ini serta mendapatkan segala yang diperlukan untuk keselamatan dan pengudusan kita.


Keputusan ini berlaku terlepas dari ketentuan apa pun yang bertentangan.





Diberikan di Roma, dari kantor pusat Penitensiari Apostolik, pada 19 Maret 2020.



Mauro Kardinal Piacenza

Penitensiari Utama



Krzysztof Nykiel

Pengawas

______



*_(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi - Bogor, 21 Maret 2020)_*

Friday, 20 March 2020

SHARING FRATER PETRIK YOGA TENTANG COVID-19 DI ROMA


Berikut ini sharing Frater Petrik Yoga yang sedang sekolah di Roma mengenai COVID 19 dan kondisi terkini Italia. Semoga bisa mengetuk hati saudara-saudara kita untuk menaati perintah "tinggal di rumah". Pesan ini kami dapatkan dari beberapa grup WhatsApp yang beredar sekitar tanggal 20 Maret 2020.

TINGGALLAH BERSAMA AKU!

Teman-teman terkasih,

Sebelumnya perkenalkan, saya Petrik Yoga, mahasiswa Indonesia dari Keuskupan Purwokerto yang sedang belajar di Roma. Saya tinggal di Collegio Urbano, dekat dengan Vatikan. Sudah sejak 5 Maret 2020 yang lalu, saya dan teman-teman memilih untuk tinggal di asrama. Ketika kami tahu bahwa kampus ditutup sampai tanggal 15 Maret, yang akhirnya diperpanjang sampai 3 April atau bahkan hingga usai Paskah, kami sadar bahwa situasi di Italia sudah parah. Lalu pada 9 Maret 2020, pemerintah Italia memutuskan untuk melakukan lockdown nasional. Salah satu keputusan yang diambil adalah menutup fasilitas publik, termasuk gereja. Vatikan, negara kecil di kota Roma, pun menutup seluruh akses dan seluruh kegiatan negara. Akibatnya adalah banyak muncul pengumuman tentang “misa online” dari paroki-paroki di Italia.

Mungkin teman-teman sempat melihat video yang viral tentang seorang imam di Milan yang meminta umatnya untuk mengirimkan foto mereka kepada imam tersebut. Dia bernama Romo Giuseppe Corbari. Romo Giuseppe lalu mencetak foto-foto yang dikirim kepadanya lalu ditaruh di kursi di gereja. “Saya ingin melihat, mengingat, dan membawa mereka dalam Ekaristi yang saya persembahkan,” begitu katanya. Saya melihat videonya di Twitter dan tiba-tiba mata saya berair. Saya sadar betul bahwa Ekaristi adalah perayaan umat, bukan perayaan imam saja. Inisiatif Romo Giuseppe sungguh menyentuh hati saya dan meyakinkan saya bahwa beliau adalah pastor yang baik, pastor yang mencintai umat.

Tetapi, ketika melihat di kolom komentar, perasaan miris ketika melihat komentar-komentar yang masih menganggap lucu Ekaristi, seperti mengatakan komuninya gofood, berkat online, dll. Komentar-komentar seperti itu yang rasanya kurang dewasa, kurang mencerminkan kedewasaan iman seseorang, dan jika saya boleh menyebut bahwa pribadi-pribadi tersebut kurang membina sense of crisis terhadap situasi dunia.

Nah, lewat tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk mulai memahami situasi, terutama memahami Ekaristi dalam bentuk online. Di Italia, hal tersebut sudah menjadi hal biasa, apalagi sudah mendapatkan izin dari konferensi para uskup. Di Indonesia, mungkin belum karena situasinya masih bisa belum segawat di sini. Tetapi saya mendengar, beberapa paroki di Indonesia sudah melakukannya.

Teman saya, Benedictus, dari Keuskupan Agung Semarang, saat ini tinggal di Provinsi Bari, salah satu provinsi selatan Italia, minggu lalu bercerita tentang situasi paroki tempat dia tinggal. Romo parokinya memutuskan untuk mengadakan misa online setiap sore. Misa dihadiri beberapa umat, seperti lektor, pemimpin lagu, perekam misa. Dictus juga bercerita bahwa sebenarnya kerinduan umat di dalam Ekaristi selain dapat menerima Tubuh Kristus dalam komuni, juga rindu mendengarkan sabda dan juga homili dari imam. Umat paham, bahwa dalam situasi seperti ini, mendengarkan sabda dan peneguhan dari imam lewat homili saja sudah cukup. Mereka menerima komuni secara spiritual atau dalam bahasa Indonesia biasa kita sebut komuni batin.

Sudah sejak masa Santo Thomas Aquinas, komuni batin sudah ada. Bahkan Santo Thomas Aquinas menjelaskan bahwa, komuni spiritual adalah sikap batin seseorang yang merindukan komuni secara sakramental. Santa Theresia dari Avila juga mengatakan, “Jika kamu tidak bisa menerima komuni secara sakramental, kamu tetap bisa menerima komuni secara spiritual”. Demikian juga Santo Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa kesatuan batin dengan Kristus juga dapat terjadi dalam komuni batin. Yang menjadi kegelisahan kita tentunya adalah rasa puas yang kurang penuh ketika tidak bisa menerima Tubuh Kristus secara langsung. Lha, mau bagaimana lagi? Situasinya sedang tidak mendukung. Tetapi, ada satu hal yang ingin saya tawarkan; bukankah seharusnya kita tetap bisa bersyukur bisa, minimal, mendengarkan sabda dan homili lewat misa online, entah lewat video atau radio, daripada mereka yang mungkin ada di penjara atau di dalam pedalaman yang tidak memiliki akses listrik atau sinyal untuk mendengarkan sabda Allah?

Situasi serupa juga pernah terjadi dalam sejarah Gereja Katolik kita. Sebutlah pada masa iman kristiani dikejar-kejar. Umat merayakan Ekaristi dalam diam di bawah tanah, di katekombe, di rumah-rumah pada tengah malam. Mereka merayakan Ekaristi tanpa bisa menerima Tubuh Kristus yang mungkin kala itu tidak mudah didapat. Tetapi iman mereka tetap tumbuh, bahkan makin kuat. Hal tersebut terjadi karena keyakinan iman mereka akan Kristus Yesus lewat sabda yang mereka dengarkan. Isitlah kerennya dalam bahasa latin adalah fides ex auditu, iman lahir dari pendengaran.

Jadi, teman-teman, lewat tulisan ini saya ingin mengajak Anda sekalian untuk membenahi cara berpikir kita, cara pandang kita tentang Ekaristi. Tolong jangan dibuat guyon. Bersyukurlah teman-teman yang masih bisa merayakan Ekaristi di paroki teman-teman. Dan saya secara pribadi memohon agar teman-teman berkenan untuk menyematkan kami yang sedang dalam masa sulit ini, orang-orang yang meninggal karena coronavirus, orang-orang sakit, para tenaga medis, dan juga pemerintah dalam doa-doa kalian semua. Bagi teman-teman yang juga sedang mengalami situasi serupa dengan kami di Italia, tetap semangat! Sempatkan waktu kalian untuk mendengarkan sabda lewat platform-platform yang ada atau juga kalian dapat mengakses bacaan harian lewat internet. Semoga dalam situasi seperti ini, yang kebetulan juga dalam masa Prapaskah, kita bisa semakin meningkatkan solidaritas kita dengan situasi dunia, mendekatkan diri kita dengan Tuhan lewat doa-doa dan rasa syukur kita.

Di samping itu, saya juga ingin mengajak teman-teman untuk mematuhi apa yang disampaikan pemerintah. Bukan berarti saya adalah orang yang sangat pro dengan pemerintah, dalam konteks ini pemerintah Indonesia. Tetapi, kita sebagai warga negara yang baik tentu harus menaruh kepercayaan kepada pemerintah yang juga berjuang untuk melindungi kita. Ajakan untuk tinggal di rumah sebenarnya adalah ajakan secara universal. Jadi, kalau pemerintah sudah meminta teman-teman untuk tinggal di rumah, taatilah! Hal tersebut demi aman dan kenyamanan bersama. Keluarlah dari rumah jika ada perlu saja, misalnya belanja untuk kebutuhan. Bahkan, misa atau berdoa juga dapat dilakukan di dalam rumah, entah secara pribadi maupun bersama dengan keluarga. Toh, iman kita tidak akan terkikis oleh karenanya.

Dalam episode di taman Getsemani, Yesus meminta para murid-Nya untuk berjaga, berdoa bersama-Nya. Dalam nyanyian Taize, kita sering mendendangkan lagu “Tinggallah bersama Aku, di dalam doa, di dalam doa...”. Nah, mungkin sekarang saatnya untuk tinggal di rumah bersama keluarga untuk bersatu; berdoa dan saling mendoakan, menjaga dan saling menjaga, bersatu dan semakin menyatukan. Pun dalam misa, di ritus penutup imam atau diakon akan berkata “Pergilah! Kita semua diutus!” Nah, saatnya kita melaksanakan perutusan kita, yaitu mematuhi aturan pemerintah, melindungi diri dan keluarga dengan stay at home, dan memupuk iman kristiani kita bersama keluarga dengan berdoa, mendengarkan sabda.

Sedikit tambahan sharing. Kami di Italia tidak boleh keluar rumah kalau bukan untuk keperluan belanja dan bekerja. Beberapa dari kami masih bekerja di sektor-sektor tertentu, misalnya di bidang radio dan televisi. Keluar rumah pun kami harus membawa surat izin dari “kabupaten” yang memang melegalkan kita untuk keluar rumah dengan alasan khusus. Sampai saat ini, salah satu fasilitas publik yang dibuka adalah supermarket. Kami harus mengantri dengan jarak setiap klien adalah tiga meter dan klien yang bisa masuk di dalam supermarket dibatasi hanya 6 orang dan hanya selama 20 menit. Jika kami melanggar, yaitu keluar dengan tidak membawa surat misalnya, kami akan dikenakan denda (minimal 200 Euro atau sejumlah Rp 3.200.000,00) atau dipenjara dengan tuduhan membahayakan nyawa orang lain.

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan saya ini. Mari saling mendoakan dan semoga kita semua diberkati Tuhan. Jangan lupa sering-sering cuci tangan, kumur-kumur, dan mandi pakai sabun! Semoga kerinduan kita untuk berkumpul, bertatap wajah satu sama lain akan dipenuhi pada waktunya. Amin.

Hari Raya Santo Yosef,
Roma, 19 Maret 2020

Petrik Yoga

Wednesday, 18 March 2020

IMAN vs CORONA


Wabah virus corona merebak dari Wuhan Cina hingga ke banyak negara, termasuk ke Indonesia. Kota Bogor dan sekitarnya pun terpapar virus ini. Sebagai orang beriman, bagaimana kita harus bersikap? Tulisan berikut kami dapatkan dari media social. Entah siapa penulisnya. Menurut kami, isinya baik dan berguna bagi kita semua. Selamat membaca.

Harusnya orang bisa membedakan antara have faith /beriman dengan ignorance / ketidakpedulian atau kebodohan.

Kalo sudah ada saran dari (WHO), otoritas kesehatan yang jelas-jelas lebih mengerti dari kita, bahwa sebaiknya dalam kondisi saat ini, sebaiknya menjauhi tempat-tempat yang ramai dan beresiko, juga sebaiknya hindari kontak fisik seperti bersalaman, tapi karena *merasa beriman*, orang ngotot tetap mau melakukannya, itu yang namanya IGNORANCE. Apalagi kemudian terhadap orang lain yang tidak mau bersalaman, kemudian dipandang sebagai kurang beriman.

Mau tau kenapa virus di Korea bisa menyebar begitu parah dan menjadikan Korea dengan penderita new Corona yang cukup besar di luar China? Itu hanya karena ada seorang ibu yang sudah kena virus ini, merasa ga enak badan, berobat ke RS, oleh pihak RS sudah disuruh dirawat inap untuk diobservasi, tapi si ibu menolak karena ya itu, merasa beriman, dan ibu ini kebetulan adalah pengikut satu aliran kepercayaan yang percaya tidak ada orang yang sakit, yang ada hanyalah orang kurang beriman, bla bla bla...... Makanya si ibu tidak berobat dengan serius, malah wira-wiri kesana kemari. Ke gerejanya beberapa kali, ke RS tradisional, ke RS lagi, tapi tidak mau diisolasi, terus kesana-sini dan menulari begitu banyak orang...

Tuhan meminta kita beriman dan percaya kepada Nya, tapi Dia juga memberikan kita karunia akal budi dan pikiran sehat. Kita harus percaya bahwa Dia akan melindungi kita, tapi bukan berarti terus kita harus menantang bahaya, kan?

Harus diingat, kalau satu orang yang kena, bukan orang itu satu saja yang menderita, tapi keluarga kita dan orang-orang  di sekitar kita dan yang sempat berinteraksi dengan kita yang juga akan kebagian getahnya.

Namaste, Shalom.