Sabtu, 18 April 2009
Koor Santher bertugas di Gereja St Ignatius Loyola - Semplak. Sempat ada kekisruhan karena soal seragam... Seminggu sebelumnya pengurus seragam telah meminta kita untuk memakai seragam Santher dalam tugas karena ini tugas pertama di Semplak dalam Pekan Paskah II. Tetapi rupanya di milis yahoogroups telah ditulis tentang pakaian batik. Saya sendiri tidak membuka email selama beberapa hari sehingga tidak tahu kabar tentang itu... Mungkin kalau di-SMS saya jadi tahu.
Secara umum Koor Santher bertugas dengan baik. Suara Tenor kali ini tidak mengecewakan... Sedangkan suara bas yang hanya terdiri dari 3 orang rupanya sanggup menyaingi suara Tenor. Suara Sopran dan Alto cukup bagus... mereka "nurut" pada aba-aba dirigen. Hujan yang turun dengan sangat deras disertai petir di tengah Perayaan Ekaristi memang sedikit mengganggu konsentrasi kita, apalagi listrik sempat padam satu detik... duh... bisa-bisa nyanyinya cuma "la--la--la--".
Dalam kotbahnya, Romo Monang mengingatkan kembali komitmen kita untuk memercayai dan mengimani Yesus yang bangkit, yang memberi harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Kris, Pak Nur dan Bu Nur selalu setia membantu Koor Santher... semoga mereka tidak bosan dengan Koor Santher... Kehadiran keluarga Pak Nur memompa semangat Koor Santher. Kita juga perlu memikirkan untuk memiliki organis sendiri di masa depan.
Selesai tugas, umat tidak bisa langsung pulang karena hujan masih turun dengan lebat.
Informasi tentang kegiatan pertemuan, tugas-tugas lingkungan, koor, BIA dan kegiatan lain di Lingkungan Santa Theresia Bogor Raya Permai, sebuah lingkungan Gereja Katolik yang terletak di komplek perumahan Bogor Raya Permai Kota Bogor - Jawa Barat, Indonesia
Monday, 20 April 2009
Thursday, 16 April 2009
PERLUKAH KITA BELAJAR BAHASA LATIN?
Misa PASKAH dalam bahasa Latin
Pada hari Minggu Paskah tanggal 12 April yang lalu saya menonton Perayaan Ekaristi Paskah bersama Bapa Suci Paus Benediktus XVI dari Vatikan melalui siaran Indosiar. Terus terang saya kagum dengan komitmen Indosiar untuk menayangkan upacara ini secara "live" atau langsung. Perayaan Ekaristi tersebut diselenggarakan dalam berbagai bahasa, khususnya Latin dan Itali serta beberapa bahasa asing lain yang digunakan untuk doa umat (Prancis, Jerman, Arab, Portugis, Spanyol, etc.). Yang pasti, sebagian besar lagunya berbahasa Latin.
Di tengah-tengah acara tersebut, saya mendapat SMS dari Sheila, organis koor Exultate. Sheila menanyakan kepada saya di mana kita bisa belajar bahasa Latin. Dia ingin tahu kenapa ucapan kata-kata Latin yang ia dengarkan di TV berbeda dari yang pernah ia dengan di Gereja. (Mungkin Sheila belum tahu bahwa Bapa Suci menggunakan bahasa Itali dalam khotbahnya dan dalam beberapa bagian pidatonya... tentu saja ucapannya berbeda dari bahasa Latin yang pernah didengarnya di gereja.)
Tetapi... menarik bahwa Sheila bertanya kepada saya di mana kita dapat belajar bahasa Latin. Saya jawab bahwa bahasa Latin saat ini hanya dipelajari di seminari-seminari, dan itu pun tidak mendalam... sehingga para calon imam hanya tahu sedikit kulitnya... Ada juga buku-buku tentang bahasa Latin; misalnya Proverbia Latina terbitan Kompas Gramedia karangan Bapak BJ Marwoto (kebetulan beliau adalah paman dari Maxi). Saya cari di internet... dan saya hanya mendapatkan satu orang yang dapat memberikan kursus bahasa Latin... di Jakarta. Hebatnya, orang tersebut adalah seorang Muslim yang sekaligus ahli dalam ilmu keagamaan.... bukan seorang Katolik atau Protestan. Saya menaruh hormat kepada beliau meskipun saya tidak mengenal beliau. Beliau menyadari pentingnya belajar bahasa Latin dan ingin memperkenalkan bahasa kuno tersebut ke banyak orang. Salut! Namanya Bapak Adian Husaini, M.A. dan dalam blog tersebut ditulis bahwa beliau mengajar di Kantor INSISTS Jakarta.
Berikut ini saya copy-paste-kan tulisan beliau dalam blognya. Ada beberapa bagian yang saya tambahkan karena Bapak Adian Husaini mengajarkan bahasa Latin klasik, sedangkan yang banyak kita dengarkan dan gunakan di Gereja adalah bahasa Latin eklesiastik. Silakan baca.
Manfaat Belajar Bahasa Latin
Bahasa Latin adalah bahasa yang sebenarnya sudah sangat akrab dengan kita. Sejak di bangku sekolah menengah (SMP atau SMA), bahkan sejak kecil, kita sudah dikenalkan dengan berbagai istilah dan ungkapan yang berasal dari atau dalam bahasa Latin. Sebagai contoh, ungkapan ora et labora, homo homini lupus, mens sana in corpore sano, veni vidi vici, quo vadis, pro forma, ante meridiem, post meridiem, ante mortem, post mortem, persona non grata, ad hoc, anno domini (A.D.), ad interim, alma mater, dies natalis, cogito ergo sum, cum laude, summa cum laude, ex officio, idem, in absentia, per capita, primus inter pares, versus, vox populi vox dei, bonus, bella, casa blanca, magna carta, dan sebagainya.
Di dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, nama-nama tumbuhan, hewan, juga organ-organ tubuh manusia dan hewan diberikan dalam bahasa Latin.Dulu kita diberitahu oleh guru kita, bahwa nama-nama tumbuhan dan hewan diberikan dalam bahasa Latin, karena bahasa ini sudah mati, tidak berkembang lagi, sehingga nama-nama itu tidak mudah berganti. Penjelasan itu tidak salah, hanya saja, memang bahasa Latin merupakan bahasa ilmiah di dunia Latin Eropa sampai abad ke-19. Ketika itu semua ilmuwan menulis karya ilmiahnya dalam bahasa Latin.
Namun, biasanya para pelajar tidak dikenalkan dengan dasar-dasar bahasa Latin, sehingga tidak jarang ada kesalahan dalam mengucapkan atau memahami maknanya dengan tepat. Padahal, jika dikenalkan dan diajarkan sedikit saja, dasar-dasar bahasa Latin, maka berbagai ungkapan dan istilah dalam bahasa Latin, akan lebih mudah dihafal dan dipahami.
Sebagai contoh, ora et labora diartikan dengan “bekerja sambil berdoa”, padahal arti yang tepat adalah “berdoalah dan bekerjalah”. Kata ora adalah bentuk perintah (imperative) dari kata kerja oro (saya berdoa, dalam, bahasa kamus bahasa Latin, kata kerja dicantumkan dalam bentuk orang pertama, saya). Juga ungkapan “veni vidi vici”, biasanya diucapkan dengan [vini, vidi, vici] (dengan ucapan “C” untuk “cacing”). Padahal, ucapan yang benar menurut ucapat Latin klasik adalah [veni, vidi, viki]. Dalam bahasa Latin klasik, huruf “C” selalu dibaca “K” dalam bahasa Indonesia (“K” untuk “kacang”), seperti kata “casa blanca” harus dibaca [kasa blanka] artinya “rumah putih”, bukan dibaca [casa blanca].
Tetapi memang betul... bahwa dalam bahasa Latin eklesiastik atau bahasa Latin yang digunakan oleh Gereja Katolik, huruf C dan G memiliki ucapan yang sedikit berbeda dari Latin klasik. Dalam Latin eklesiastik, huruf C yang diikuti huruf I, E, AE, OE selalu diucapkan C seperti dalam “cacing”; sedangkan huruf C yang diikuti huruf A, O dan U selalu diucapkan K seperti dalam Latin klasik. Demikian juga dengan huruf G. Dalam Latin eklesiastik, huruf G dibaca J (seperti dalam Jerman) bila diikuti huruf I dan E. Sedangkan bila diikuti A, O dan U, huruf G harus dibaca seperti dalam “garing”, “gado-gado”.
Ungkapan Caius Julius Caesar, Kaisar Romawi, yang terkenal itu (veni, vidi, vici), biasanya diartikan dengan “saya datang, saya melihat, dan saya menang”. Ungkapan ini sebenarnya diberikan dalam bentuk lampau (past tense), yang arti tepatnya ialah “saya telah datang, saya telah melihat, dan saya telah menang.” Dalam bentuk sedang atau (present tense), ungkapan ini seharusnya ialah “venio, video, vinco”, artinya “saya datang, saya melihat, dan saya menang”.
Ini sebenarnya ungkapan yang menggambarkan keperkasaan dan kesombongan Julius Cesar, bahwa ketika berperang melawan raja Pontus, sekitar tahun 47 SM, dia tidak perlu bersusah-payah dalam mengalahkan musuh. Tetapi, cukup hanya datang dan melihat-lihat saja, musuh sudah lari terbirit-birit, ketakutan, sehingga dia menang tanpa berperang. Dalam pertandingan olah raga, ungkapan ini biasanya digunakan untuk memberi semangat kepada tim yang bertanding.
Bagi pelajar IPA atau mahasiswa bisang kedokteran, kedokteran hewan, biologi, dan sebagainya, kata-kata Latin telah sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita mengetahui dasar-dasar bahasa Latin, maka kita akan melihat, betapa banyaknya nama-nama tumbuhan dan hewan yang telah akrab dengan kita. Misalnya, nama latin dari padi ialah oryza sativa. Dalam bahasa Latin, padi adalah “oryza”.
Dalam dunia kedokteran hewan, dikenal istilah “kadaver” untuk menyebut bangkai binatang. Istilah ini memang berasal dari bahasa Latin “cadaver”. Begitu juga istilah-istilah “os” (tulang), pembuahan “in vivo” (pembuahan di dalam tubuh), dan pembuahan “in vitro” (pembuahan dalam tabung/ di luar tubuh), postmortem (pemeriksaan pasca kematian).Anak-anak sekolah dasar sudah diajarkan tentang jenis-jenis binatang, seperti “herbivora”, “carnivora”, dan “omnivora”. Kata-kata ini juga berasal dari bahasa Latin.
Herbivora berasal dari kata “herba” artinya, “rumput”, dan “voro” artinya “menelan” atau “makan”. Maka, herbivora adalah jenis binatang pemakan rumput. Kata Carnivora berasal dari kata “caro, carnis”, yang artinya “daging”. (bentuk-bentuk perubahan kata benda akan dijelaskan kemudian). Sedangkan kata “omnivora” adalah jenis binatang pemakan semua makanan. Ini berasal dari kata “omnis” yang artinya “semua”.
Bahasa Latin sampai saat ini masih digunakan di lingkungan Vatican. Maka, dalam bidang teologi Kristen, penguasaan bahasa Latin menjadi satu keharusan. Istilah-istilah Latin sudah sangat akrab di telinga banyak orang, seperti frater, pater, pastor, ecclesia, pacem in terris, dan sebagainya. Begitu juga dalam bidang hukum dan politik, banyak sekali istilah-istilah Latin yang perlu dikuasai oleh pakar politik atau praktisi hukum, seperti istilah “pro-justisia” yang sebenarnya “pro-iustitia”, ius-soli, ius sanguinis, pax-americana, res publica, pro forma, novum, in absentia, dan sebagainya.
Oleh sebab itu, ada baiknya, sedikit banyak mengenal dasar-dasar bahasa Latin, untuk menambah wawasan, atau mungkin untuk mendalami lebih jauh berbagai bidang ilmu pengetahuan. Peminat studi Islam, misalnya, ada baiknya menguasai bahasa Latin, sebab dengan itu, akan dapat membaca karya-karya ilmuwan Barat yang di Zaman Pertengahan ditulis dalam bahasa Latin. Pada tahun 1143, untuk pertama kalinya, orang Barat mengenal al-Quran melalui terjemahan Bahasa Latin yang diterjemahkan oleh Robert of Ketton.
Pada abad ke-13, Ricoldo da Montecroce juga menerjemahkan al-Quran dalam bahasa Latin, yang ia beri judul “Confutatio Alcorani”. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh tokoh Kristen Protestan Martin Luther ke Bahasa Jerman. Pada abad ke-15 juga muncul terjemahan al-Quran oleh John of Segia (m. 1458), yang mengoreksi karya Ketton. Begitu juga bidang sains Islam, perlu dilengkapi dengan pengetahuan bahasa Latin, sebab di Zaman Pertengahan, para ilmuwan Barat banyak menerjemahkan karya-karya ilmuwan Muslim dari bahasa Arab ke bahasa Latin.
Bidang teologi Kristen sulit dipisahkan dari bahasa Latin, karena dokumen-dokumen resmi Vatikan ditulis dalam bahasa Latin.
Di era globalisasi saat ini, dunia pemikiran keagamaan saling berkelindan satu sama lain. Kaum Muslim, Kristen, dan agama-agama lain, sulit menghindarkan diri dari pengaruh pemikiran-pemikiran keagamaan yang berkembang di dunia Barat. Karena itu, bagi peminat sejarah dan perkembangan pemikiran keagamaan, akan lebih bermanfaat jika bisa memahami bahasa Latin.C.W. Valentine, dalam buku “LATIN: Its Place and Value in Education” (London: University of London, 1935), mencatat bahwa Bahasa Latin menjadi dasar penting untuk mempelajari bahasa-bahasa asing lain, yang berbasis bahasa Latin (Romance languages), seperti bahasa Perancis, Italia, atau Spanyol. Bahasa Latin juga menjadi fondasi penting dalam perkembangan bahasa Inggris.
Edwin Lee Johnson dalam bukunya, Latin Words of Common English, (London: D.C. Heath and Company, 1931), menjelaskan dengan terperinci sejarah dan pengaruh bahasa Latin terhadap bahasa Inggris.
Oleh sebab itu, para peminat sastra Inggris, akan sangat baik jika memahami dasar-dasar bahasa Latin, sebab dapat mengetahui asal-muasal dan perkembangan makna suatu kata dengan tepat.
Pada hari Minggu Paskah tanggal 12 April yang lalu saya menonton Perayaan Ekaristi Paskah bersama Bapa Suci Paus Benediktus XVI dari Vatikan melalui siaran Indosiar. Terus terang saya kagum dengan komitmen Indosiar untuk menayangkan upacara ini secara "live" atau langsung. Perayaan Ekaristi tersebut diselenggarakan dalam berbagai bahasa, khususnya Latin dan Itali serta beberapa bahasa asing lain yang digunakan untuk doa umat (Prancis, Jerman, Arab, Portugis, Spanyol, etc.). Yang pasti, sebagian besar lagunya berbahasa Latin.
Di tengah-tengah acara tersebut, saya mendapat SMS dari Sheila, organis koor Exultate. Sheila menanyakan kepada saya di mana kita bisa belajar bahasa Latin. Dia ingin tahu kenapa ucapan kata-kata Latin yang ia dengarkan di TV berbeda dari yang pernah ia dengan di Gereja. (Mungkin Sheila belum tahu bahwa Bapa Suci menggunakan bahasa Itali dalam khotbahnya dan dalam beberapa bagian pidatonya... tentu saja ucapannya berbeda dari bahasa Latin yang pernah didengarnya di gereja.)
Tetapi... menarik bahwa Sheila bertanya kepada saya di mana kita dapat belajar bahasa Latin. Saya jawab bahwa bahasa Latin saat ini hanya dipelajari di seminari-seminari, dan itu pun tidak mendalam... sehingga para calon imam hanya tahu sedikit kulitnya... Ada juga buku-buku tentang bahasa Latin; misalnya Proverbia Latina terbitan Kompas Gramedia karangan Bapak BJ Marwoto (kebetulan beliau adalah paman dari Maxi). Saya cari di internet... dan saya hanya mendapatkan satu orang yang dapat memberikan kursus bahasa Latin... di Jakarta. Hebatnya, orang tersebut adalah seorang Muslim yang sekaligus ahli dalam ilmu keagamaan.... bukan seorang Katolik atau Protestan. Saya menaruh hormat kepada beliau meskipun saya tidak mengenal beliau. Beliau menyadari pentingnya belajar bahasa Latin dan ingin memperkenalkan bahasa kuno tersebut ke banyak orang. Salut! Namanya Bapak Adian Husaini, M.A. dan dalam blog tersebut ditulis bahwa beliau mengajar di Kantor INSISTS Jakarta.
Berikut ini saya copy-paste-kan tulisan beliau dalam blognya. Ada beberapa bagian yang saya tambahkan karena Bapak Adian Husaini mengajarkan bahasa Latin klasik, sedangkan yang banyak kita dengarkan dan gunakan di Gereja adalah bahasa Latin eklesiastik. Silakan baca.
Manfaat Belajar Bahasa Latin
Bahasa Latin adalah bahasa yang sebenarnya sudah sangat akrab dengan kita. Sejak di bangku sekolah menengah (SMP atau SMA), bahkan sejak kecil, kita sudah dikenalkan dengan berbagai istilah dan ungkapan yang berasal dari atau dalam bahasa Latin. Sebagai contoh, ungkapan ora et labora, homo homini lupus, mens sana in corpore sano, veni vidi vici, quo vadis, pro forma, ante meridiem, post meridiem, ante mortem, post mortem, persona non grata, ad hoc, anno domini (A.D.), ad interim, alma mater, dies natalis, cogito ergo sum, cum laude, summa cum laude, ex officio, idem, in absentia, per capita, primus inter pares, versus, vox populi vox dei, bonus, bella, casa blanca, magna carta, dan sebagainya.
Di dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, nama-nama tumbuhan, hewan, juga organ-organ tubuh manusia dan hewan diberikan dalam bahasa Latin.Dulu kita diberitahu oleh guru kita, bahwa nama-nama tumbuhan dan hewan diberikan dalam bahasa Latin, karena bahasa ini sudah mati, tidak berkembang lagi, sehingga nama-nama itu tidak mudah berganti. Penjelasan itu tidak salah, hanya saja, memang bahasa Latin merupakan bahasa ilmiah di dunia Latin Eropa sampai abad ke-19. Ketika itu semua ilmuwan menulis karya ilmiahnya dalam bahasa Latin.
Namun, biasanya para pelajar tidak dikenalkan dengan dasar-dasar bahasa Latin, sehingga tidak jarang ada kesalahan dalam mengucapkan atau memahami maknanya dengan tepat. Padahal, jika dikenalkan dan diajarkan sedikit saja, dasar-dasar bahasa Latin, maka berbagai ungkapan dan istilah dalam bahasa Latin, akan lebih mudah dihafal dan dipahami.
Sebagai contoh, ora et labora diartikan dengan “bekerja sambil berdoa”, padahal arti yang tepat adalah “berdoalah dan bekerjalah”. Kata ora adalah bentuk perintah (imperative) dari kata kerja oro (saya berdoa, dalam, bahasa kamus bahasa Latin, kata kerja dicantumkan dalam bentuk orang pertama, saya). Juga ungkapan “veni vidi vici”, biasanya diucapkan dengan [vini, vidi, vici] (dengan ucapan “C” untuk “cacing”). Padahal, ucapan yang benar menurut ucapat Latin klasik adalah [veni, vidi, viki]. Dalam bahasa Latin klasik, huruf “C” selalu dibaca “K” dalam bahasa Indonesia (“K” untuk “kacang”), seperti kata “casa blanca” harus dibaca [kasa blanka] artinya “rumah putih”, bukan dibaca [casa blanca].
Tetapi memang betul... bahwa dalam bahasa Latin eklesiastik atau bahasa Latin yang digunakan oleh Gereja Katolik, huruf C dan G memiliki ucapan yang sedikit berbeda dari Latin klasik. Dalam Latin eklesiastik, huruf C yang diikuti huruf I, E, AE, OE selalu diucapkan C seperti dalam “cacing”; sedangkan huruf C yang diikuti huruf A, O dan U selalu diucapkan K seperti dalam Latin klasik. Demikian juga dengan huruf G. Dalam Latin eklesiastik, huruf G dibaca J (seperti dalam Jerman) bila diikuti huruf I dan E. Sedangkan bila diikuti A, O dan U, huruf G harus dibaca seperti dalam “garing”, “gado-gado”.
Ungkapan Caius Julius Caesar, Kaisar Romawi, yang terkenal itu (veni, vidi, vici), biasanya diartikan dengan “saya datang, saya melihat, dan saya menang”. Ungkapan ini sebenarnya diberikan dalam bentuk lampau (past tense), yang arti tepatnya ialah “saya telah datang, saya telah melihat, dan saya telah menang.” Dalam bentuk sedang atau (present tense), ungkapan ini seharusnya ialah “venio, video, vinco”, artinya “saya datang, saya melihat, dan saya menang”.
Ini sebenarnya ungkapan yang menggambarkan keperkasaan dan kesombongan Julius Cesar, bahwa ketika berperang melawan raja Pontus, sekitar tahun 47 SM, dia tidak perlu bersusah-payah dalam mengalahkan musuh. Tetapi, cukup hanya datang dan melihat-lihat saja, musuh sudah lari terbirit-birit, ketakutan, sehingga dia menang tanpa berperang. Dalam pertandingan olah raga, ungkapan ini biasanya digunakan untuk memberi semangat kepada tim yang bertanding.
Bagi pelajar IPA atau mahasiswa bisang kedokteran, kedokteran hewan, biologi, dan sebagainya, kata-kata Latin telah sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita mengetahui dasar-dasar bahasa Latin, maka kita akan melihat, betapa banyaknya nama-nama tumbuhan dan hewan yang telah akrab dengan kita. Misalnya, nama latin dari padi ialah oryza sativa. Dalam bahasa Latin, padi adalah “oryza”.
Dalam dunia kedokteran hewan, dikenal istilah “kadaver” untuk menyebut bangkai binatang. Istilah ini memang berasal dari bahasa Latin “cadaver”. Begitu juga istilah-istilah “os” (tulang), pembuahan “in vivo” (pembuahan di dalam tubuh), dan pembuahan “in vitro” (pembuahan dalam tabung/ di luar tubuh), postmortem (pemeriksaan pasca kematian).Anak-anak sekolah dasar sudah diajarkan tentang jenis-jenis binatang, seperti “herbivora”, “carnivora”, dan “omnivora”. Kata-kata ini juga berasal dari bahasa Latin.
Herbivora berasal dari kata “herba” artinya, “rumput”, dan “voro” artinya “menelan” atau “makan”. Maka, herbivora adalah jenis binatang pemakan rumput. Kata Carnivora berasal dari kata “caro, carnis”, yang artinya “daging”. (bentuk-bentuk perubahan kata benda akan dijelaskan kemudian). Sedangkan kata “omnivora” adalah jenis binatang pemakan semua makanan. Ini berasal dari kata “omnis” yang artinya “semua”.
Bahasa Latin sampai saat ini masih digunakan di lingkungan Vatican. Maka, dalam bidang teologi Kristen, penguasaan bahasa Latin menjadi satu keharusan. Istilah-istilah Latin sudah sangat akrab di telinga banyak orang, seperti frater, pater, pastor, ecclesia, pacem in terris, dan sebagainya. Begitu juga dalam bidang hukum dan politik, banyak sekali istilah-istilah Latin yang perlu dikuasai oleh pakar politik atau praktisi hukum, seperti istilah “pro-justisia” yang sebenarnya “pro-iustitia”, ius-soli, ius sanguinis, pax-americana, res publica, pro forma, novum, in absentia, dan sebagainya.
Oleh sebab itu, ada baiknya, sedikit banyak mengenal dasar-dasar bahasa Latin, untuk menambah wawasan, atau mungkin untuk mendalami lebih jauh berbagai bidang ilmu pengetahuan. Peminat studi Islam, misalnya, ada baiknya menguasai bahasa Latin, sebab dengan itu, akan dapat membaca karya-karya ilmuwan Barat yang di Zaman Pertengahan ditulis dalam bahasa Latin. Pada tahun 1143, untuk pertama kalinya, orang Barat mengenal al-Quran melalui terjemahan Bahasa Latin yang diterjemahkan oleh Robert of Ketton.
Pada abad ke-13, Ricoldo da Montecroce juga menerjemahkan al-Quran dalam bahasa Latin, yang ia beri judul “Confutatio Alcorani”. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh tokoh Kristen Protestan Martin Luther ke Bahasa Jerman. Pada abad ke-15 juga muncul terjemahan al-Quran oleh John of Segia (m. 1458), yang mengoreksi karya Ketton. Begitu juga bidang sains Islam, perlu dilengkapi dengan pengetahuan bahasa Latin, sebab di Zaman Pertengahan, para ilmuwan Barat banyak menerjemahkan karya-karya ilmuwan Muslim dari bahasa Arab ke bahasa Latin.
Bidang teologi Kristen sulit dipisahkan dari bahasa Latin, karena dokumen-dokumen resmi Vatikan ditulis dalam bahasa Latin.
Di era globalisasi saat ini, dunia pemikiran keagamaan saling berkelindan satu sama lain. Kaum Muslim, Kristen, dan agama-agama lain, sulit menghindarkan diri dari pengaruh pemikiran-pemikiran keagamaan yang berkembang di dunia Barat. Karena itu, bagi peminat sejarah dan perkembangan pemikiran keagamaan, akan lebih bermanfaat jika bisa memahami bahasa Latin.C.W. Valentine, dalam buku “LATIN: Its Place and Value in Education” (London: University of London, 1935), mencatat bahwa Bahasa Latin menjadi dasar penting untuk mempelajari bahasa-bahasa asing lain, yang berbasis bahasa Latin (Romance languages), seperti bahasa Perancis, Italia, atau Spanyol. Bahasa Latin juga menjadi fondasi penting dalam perkembangan bahasa Inggris.
Edwin Lee Johnson dalam bukunya, Latin Words of Common English, (London: D.C. Heath and Company, 1931), menjelaskan dengan terperinci sejarah dan pengaruh bahasa Latin terhadap bahasa Inggris.
Oleh sebab itu, para peminat sastra Inggris, akan sangat baik jika memahami dasar-dasar bahasa Latin, sebab dapat mengetahui asal-muasal dan perkembangan makna suatu kata dengan tepat.
Monday, 13 April 2009
SELAMAT PASKAH 2009
PEKAN SUCI DAN PERAYAAN PASKAH
Sebagaimana biasa terjadi setiap tahun, Lingkungan Santa Theresia juga sangat sibuk dengan berbagai kegiatan di sekitar Pekan Suci dan Perayaan Paskah.
Minggu Palma (5 April 2009)
Lingkungan Santher bertugas TTK pada Perayaan Minggu Palma. Untuk tugas ini Pak Totok beserta jajaran pengurus berhasil mengerahkan lebih dari 40 personel warga Santher sehingga perayaan berlangsung dengan tertib, aman dan lancar. Urusan-urusan lain yang biasanya menjadi tanggung jawab Pak Totok, Pak Hadi, Pak Ronny dan kawan-kawan untuk CCTV dll juga lancar.
Malam harinya diadakan latihan koor di rumah Ibu Sri. Latihan ini untuk persiapan tugas Jumat Agung di Semplak dan Minggu Paskah di Katedral. Hampir semua anggota hadir dalam latihan ini.
Kamis Putih (9 April 2009)
Pada Kamis pukul 10.00-13.00 diadakan latihan koor khusus untuk Jumat Agung. Latihan diadakan di rumah Ibu Sri lagi. Latihan berjalan lancar. Beberapa anggota koor tidak dapat hadir karena berbagai tugas. Pak Totok dan Pak Hadi harus mengurus CCTV di gereja Semplak. Bu Ari, yang sedang sakit, terpaksa harus pulang lebih dulu.
Perayaan Ekaristi Kamis Putih di Semplak dimulai pk 18.00. Semua berjalan lancar. Pak Herry Djoko menjadi salah satu rasul yang dicuci kakinya oleh Romo Driyanto.
Jumat Agung (10 April 2009)
Jam 9 pagi ada Upacara Jalan Salib di Semplak.
Jam 15.00 ada Perayaan Jumat Agung. Di sinilah Koor Santher bertugas... a capella. Dengan seragam baju putih dengan dasi merah (untuk Tenor dan Bass) dan korsase merah (untuk Sopran dan Alto), semua bernyanyi dengan merdu... Seperti biasa, Santher juga dibantu Pak Nur, Bu Nur dan Kris. Untuk menyanyikan Passio, tahun ini Imam (Rm Tri Harjono) menjadi tokoh Yesus, Pak Nurwiyono dan Pak Yohanes Agus Suparyanto menjadi pembawa ceritanya. Pak Herry Djoko membawakan Mazmur Tanggapan dan Bait Pengantar Injil.
Secara umum upacara berlangsung dengan lancar. Koor Santher juga bertugas dengan cukup baik... Kalau ada kekurangan sana-sini, itu hal yang biasa...
Upacara berlangsung hingga pukul 17.00.
Sabtu Suci (11 April 2009)
Pada pukul 11.00 Koor Santher berlatih untuk persiapan tugas Minggu Paskah. Latihan diadakan di rumah Bapak Totok. Dalam latihan ini beberapa anggota Exultate yang kita minta bantuannya untuk ikut bertugas juga hadir: drg Cisca, dr Ika, Mas Thomas Gago, Mbak Lia, Ibu Evie and Ibu Herry. Pak Simon (mertuanya Pak Edu) tidak dapat hadir karena sedang tidak enak badan. Latihan berlangsung lancar...
Perayaan Malam Paskah di Semplak berlangsung lancar dan aman, mulai pukul 18.00 hingga sekitar pukul 21.00. Koor Wilayah Semplak berhasil tampil dengan baik. Mereka antara lain menyanyikan lagu Halleluya-nya GF Handel.
Sementara itu, di Katedral, Perayaan Ekaristi malam Paskah diadakan dua kali. Misa pertama dimulai pukul 17.00 dan dipimpin oleh Bapak Uskup didampingi Rm DS. Tukiyo dan Rm Sutanto. Koor yang bertugas adalah Koor BMV (koor Paroki). Misa berlangsung lancar... ada 5 orang yang dibaptis dalam misa pertama. Ekaristi berlangsung hingga pukul 20 ... dan ini membuat kemacetan terjadi sebelum misa ke dua yang akan dimulai pukul 20.30.
Minggu Paskah (12 April 2009)
Koor Santher bertugas dalam Misa Minggu Paskah pukul 7.00 di Katedral BMV. Dibantu oleh beberapa orang dari Exultate dan Sheila sebagai organis, Koor Santher dapat melayani Ekaristi dengan lancar.
Masih ada kekurangan di sana-sini... karena kita memang belum pernah berlatih bersama organis... Jadi, wajar kalau ada kekurangan. Dalam tugas ini, suara Tenor juga beberapa kali masih kedodoran... mungkin karena teksnya terselip entah di mana... Bagaimana pun, tugas telah terlaksana...
Terima kasih kita sampaikan kepada Sheila (organis), Pak Simon (ketua Exultate), Mas Gago, Ibu Evie, Ibu Heri, Mbak Lia, dr Ika dan drg Cisca atas bantuan mereka.
Selamat Paskah untuk Umat Lingkungan Santa Theresia Bogor Raya Permai.
Christus vincit, Christus regnat, Christus imperat.
Tuhan memberkati...
Sebagaimana biasa terjadi setiap tahun, Lingkungan Santa Theresia juga sangat sibuk dengan berbagai kegiatan di sekitar Pekan Suci dan Perayaan Paskah.
Minggu Palma (5 April 2009)
Lingkungan Santher bertugas TTK pada Perayaan Minggu Palma. Untuk tugas ini Pak Totok beserta jajaran pengurus berhasil mengerahkan lebih dari 40 personel warga Santher sehingga perayaan berlangsung dengan tertib, aman dan lancar. Urusan-urusan lain yang biasanya menjadi tanggung jawab Pak Totok, Pak Hadi, Pak Ronny dan kawan-kawan untuk CCTV dll juga lancar.
Malam harinya diadakan latihan koor di rumah Ibu Sri. Latihan ini untuk persiapan tugas Jumat Agung di Semplak dan Minggu Paskah di Katedral. Hampir semua anggota hadir dalam latihan ini.
Kamis Putih (9 April 2009)
Pada Kamis pukul 10.00-13.00 diadakan latihan koor khusus untuk Jumat Agung. Latihan diadakan di rumah Ibu Sri lagi. Latihan berjalan lancar. Beberapa anggota koor tidak dapat hadir karena berbagai tugas. Pak Totok dan Pak Hadi harus mengurus CCTV di gereja Semplak. Bu Ari, yang sedang sakit, terpaksa harus pulang lebih dulu.
Perayaan Ekaristi Kamis Putih di Semplak dimulai pk 18.00. Semua berjalan lancar. Pak Herry Djoko menjadi salah satu rasul yang dicuci kakinya oleh Romo Driyanto.
Jumat Agung (10 April 2009)
Jam 9 pagi ada Upacara Jalan Salib di Semplak.
Jam 15.00 ada Perayaan Jumat Agung. Di sinilah Koor Santher bertugas... a capella. Dengan seragam baju putih dengan dasi merah (untuk Tenor dan Bass) dan korsase merah (untuk Sopran dan Alto), semua bernyanyi dengan merdu... Seperti biasa, Santher juga dibantu Pak Nur, Bu Nur dan Kris. Untuk menyanyikan Passio, tahun ini Imam (Rm Tri Harjono) menjadi tokoh Yesus, Pak Nurwiyono dan Pak Yohanes Agus Suparyanto menjadi pembawa ceritanya. Pak Herry Djoko membawakan Mazmur Tanggapan dan Bait Pengantar Injil.
Secara umum upacara berlangsung dengan lancar. Koor Santher juga bertugas dengan cukup baik... Kalau ada kekurangan sana-sini, itu hal yang biasa...
Upacara berlangsung hingga pukul 17.00.
Sabtu Suci (11 April 2009)
Pada pukul 11.00 Koor Santher berlatih untuk persiapan tugas Minggu Paskah. Latihan diadakan di rumah Bapak Totok. Dalam latihan ini beberapa anggota Exultate yang kita minta bantuannya untuk ikut bertugas juga hadir: drg Cisca, dr Ika, Mas Thomas Gago, Mbak Lia, Ibu Evie and Ibu Herry. Pak Simon (mertuanya Pak Edu) tidak dapat hadir karena sedang tidak enak badan. Latihan berlangsung lancar...
Perayaan Malam Paskah di Semplak berlangsung lancar dan aman, mulai pukul 18.00 hingga sekitar pukul 21.00. Koor Wilayah Semplak berhasil tampil dengan baik. Mereka antara lain menyanyikan lagu Halleluya-nya GF Handel.
Sementara itu, di Katedral, Perayaan Ekaristi malam Paskah diadakan dua kali. Misa pertama dimulai pukul 17.00 dan dipimpin oleh Bapak Uskup didampingi Rm DS. Tukiyo dan Rm Sutanto. Koor yang bertugas adalah Koor BMV (koor Paroki). Misa berlangsung lancar... ada 5 orang yang dibaptis dalam misa pertama. Ekaristi berlangsung hingga pukul 20 ... dan ini membuat kemacetan terjadi sebelum misa ke dua yang akan dimulai pukul 20.30.
Minggu Paskah (12 April 2009)
Koor Santher bertugas dalam Misa Minggu Paskah pukul 7.00 di Katedral BMV. Dibantu oleh beberapa orang dari Exultate dan Sheila sebagai organis, Koor Santher dapat melayani Ekaristi dengan lancar.
Masih ada kekurangan di sana-sini... karena kita memang belum pernah berlatih bersama organis... Jadi, wajar kalau ada kekurangan. Dalam tugas ini, suara Tenor juga beberapa kali masih kedodoran... mungkin karena teksnya terselip entah di mana... Bagaimana pun, tugas telah terlaksana...
Terima kasih kita sampaikan kepada Sheila (organis), Pak Simon (ketua Exultate), Mas Gago, Ibu Evie, Ibu Heri, Mbak Lia, dr Ika dan drg Cisca atas bantuan mereka.
Selamat Paskah untuk Umat Lingkungan Santa Theresia Bogor Raya Permai.
Christus vincit, Christus regnat, Christus imperat.
Tuhan memberkati...
Friday, 27 March 2009
LATIHAN KOOR DALAM KEGELAPAN
Kamis, 26 Maret 2009.
Menurut rencana sebelumnya, latihan koor Santher akan diadakan di rumah Pak Eddy Bambang..., tetapi karena ada halangan, tempat latihan dipindah di rumah keluarga Bapak Hadi Karyono... Rencananya, latihan akan dimulai pukul 17.00 agar bisa selesai sekitar pukul 19.00.
Ternyata...
Beberapa menit sebelum pukul 17.00 terjadi hujan deras dan angin kencang yang melanda wilayah Bogor Raya Permai dan sekitarnya... Tak ayal... semua menunda untuk berangkat latihan koor. Belum selesai bergumam karena hujan deras, tiba-tiba listrik padam...
Mulai pukul 17.15 rumah Pak Hadi mulai didatangi anggota koor... Sebagian besar warga Santher memang ragu-ragu untuk segera datang karena hari masih hujan dan listrik padam.
Pak Hadi berupaya keras menghidupkan genset-nya... Setelah Bapak Herry Djoko hadir, servis genset semakin gencar... Lha Pak Herry sampai rela "nyedot" bensin di dalam mesin.... Beberapa kali Pak Hadi dan Pak Herry mencoba starter genset-nya...
Sementara itu latihan mulai diadakan pukul 18.20an dengan beberapa orang yang telah hadir... Lilin, lampu senter dan terang HP... semua digunakan untuk membaca teks-teks lagu yang memang belum dihafal... Maklum, banyak lagu adalah lagu baru dan sedikit lebih sulit aransemennya daripada aransemen Puji Syukur...
Satu per satu anggota koor berdatangan... akhirnya terkumpul banyak juga. Yang tidak hadir hanya beberapa orang dan mereka memang sedang ada kegiatan yang tidak dapat ditinggalkan: Bu Ari masih ada tugas di Jakarta; Pak Edo masih lembur di kantor, Pak Doni ada pekerjaan penting...
Usaha Pak Hadi dan Pak Herry pun lumayan berhasil... Selama sekitar 1 jam, genset sempat menerangi latihan kendati sempat juga "byar-pet".
Sekitar jam 20.45 latihan kita hentikan karena semua sudah capek... Listrik masih padam... Rasa lelah dan "pening" karena not-not yang sulit buat Koor Santher akhirnya terobati dengan hidangan nasi goreng yang telah disiapkan Ibu Ratna... Pak Jack yang membuka dan menutup doa makan...
Ini kali pertama Koor Santher berlatih dalam "kegelapan" dan untuk waktu yang sangat lama... dari pk 17.00 sampai 21.00 (4 jam). Tetapi kita bersyukur karena Tuhan baik... Kebaikan Tuhan tersalur lewat kebaikan hati keluarga Bapak Hadi Karyono... Semoga Pak Hadi, Ibu Ratna, Jerry, Alex dan Katrien selalu mendapat berkat dari Tuhan...
Latihan koor berikutnya (Minggu, 29 Maret pk 19.00) akan diadakan di rumah Bapak Ronny & Ibu Monic... Semoga semua lancar.
Menurut rencana sebelumnya, latihan koor Santher akan diadakan di rumah Pak Eddy Bambang..., tetapi karena ada halangan, tempat latihan dipindah di rumah keluarga Bapak Hadi Karyono... Rencananya, latihan akan dimulai pukul 17.00 agar bisa selesai sekitar pukul 19.00.
Ternyata...
Beberapa menit sebelum pukul 17.00 terjadi hujan deras dan angin kencang yang melanda wilayah Bogor Raya Permai dan sekitarnya... Tak ayal... semua menunda untuk berangkat latihan koor. Belum selesai bergumam karena hujan deras, tiba-tiba listrik padam...
Mulai pukul 17.15 rumah Pak Hadi mulai didatangi anggota koor... Sebagian besar warga Santher memang ragu-ragu untuk segera datang karena hari masih hujan dan listrik padam.
Pak Hadi berupaya keras menghidupkan genset-nya... Setelah Bapak Herry Djoko hadir, servis genset semakin gencar... Lha Pak Herry sampai rela "nyedot" bensin di dalam mesin.... Beberapa kali Pak Hadi dan Pak Herry mencoba starter genset-nya...
Sementara itu latihan mulai diadakan pukul 18.20an dengan beberapa orang yang telah hadir... Lilin, lampu senter dan terang HP... semua digunakan untuk membaca teks-teks lagu yang memang belum dihafal... Maklum, banyak lagu adalah lagu baru dan sedikit lebih sulit aransemennya daripada aransemen Puji Syukur...
Satu per satu anggota koor berdatangan... akhirnya terkumpul banyak juga. Yang tidak hadir hanya beberapa orang dan mereka memang sedang ada kegiatan yang tidak dapat ditinggalkan: Bu Ari masih ada tugas di Jakarta; Pak Edo masih lembur di kantor, Pak Doni ada pekerjaan penting...
Usaha Pak Hadi dan Pak Herry pun lumayan berhasil... Selama sekitar 1 jam, genset sempat menerangi latihan kendati sempat juga "byar-pet".
Sekitar jam 20.45 latihan kita hentikan karena semua sudah capek... Listrik masih padam... Rasa lelah dan "pening" karena not-not yang sulit buat Koor Santher akhirnya terobati dengan hidangan nasi goreng yang telah disiapkan Ibu Ratna... Pak Jack yang membuka dan menutup doa makan...
Ini kali pertama Koor Santher berlatih dalam "kegelapan" dan untuk waktu yang sangat lama... dari pk 17.00 sampai 21.00 (4 jam). Tetapi kita bersyukur karena Tuhan baik... Kebaikan Tuhan tersalur lewat kebaikan hati keluarga Bapak Hadi Karyono... Semoga Pak Hadi, Ibu Ratna, Jerry, Alex dan Katrien selalu mendapat berkat dari Tuhan...
Latihan koor berikutnya (Minggu, 29 Maret pk 19.00) akan diadakan di rumah Bapak Ronny & Ibu Monic... Semoga semua lancar.
Thursday, 12 March 2009
A DIFFERENT APPROACH TO FASTING
Fasts have a tendency to be oriented toward things like giving up food or television. But there are many other creative ways we can welcome Jesus' healing touch. Here are suggestions you may want to consider.
1. Fast from anger and hatred. Give your family an extra dose of love each day.
2. Fast from judging others.
Before making any judgments, recall how Jesus overlooks our faults.
3. Fast from discouragement.
Hold on to Jesus' promise that He has a perfect plan for your life.
4. Fast from complaining.
When you find yourself about to complain, close your eyes and recall some of the little moments of joy Jesus has given you.
5. Fast from resentment or bitterness!.
Work on forgiving those who may have hurt you.
6. Fast from spending too much money.
Try to reduce your spending by ten percent and give those savings to the poor.
Please forward this to as many as possible and surely, you will be blessed abundantly. Wishing you all Peace, Love, and Happiness during Lent. SMILE – Jesus Loves You!
*Tulisan ini saya dapatkan dari Ibu Evie Sinaulan - Exultate. Semoga berguna bagi warga Santher.
(Thomas A. Sutadi)
1. Fast from anger and hatred. Give your family an extra dose of love each day.
2. Fast from judging others.
Before making any judgments, recall how Jesus overlooks our faults.
3. Fast from discouragement.
Hold on to Jesus' promise that He has a perfect plan for your life.
4. Fast from complaining.
When you find yourself about to complain, close your eyes and recall some of the little moments of joy Jesus has given you.
5. Fast from resentment or bitterness!.
Work on forgiving those who may have hurt you.
6. Fast from spending too much money.
Try to reduce your spending by ten percent and give those savings to the poor.
Please forward this to as many as possible and surely, you will be blessed abundantly. Wishing you all Peace, Love, and Happiness during Lent. SMILE – Jesus Loves You!
*Tulisan ini saya dapatkan dari Ibu Evie Sinaulan - Exultate. Semoga berguna bagi warga Santher.
(Thomas A. Sutadi)
Tuesday, 10 March 2009
TUGAS KOOR SANTHER KE-4 DI KATEDRAL BMV
Minggu, 8 Maret 2009. Koor Santher bertugas koor di Katedral Bogor pada misa Minggu Prapaskah II pk 17.00. Misa dipersembahkan oleh RD. Alfons Sebatu. Ada 14 suara plus 1 dirigen (Thomas) dan 1 organis (Sheila Gunawan). SATB terdiri dai: 5 suara Sopran (Bu Maxi, Bu Erly, Bu Tantri, Bu Christy dan Bu Monik), 3 suara Alto (Bu Dani, Bu Bambu, Bu Ida), 3 suara Tenor (Pak Eddy Bambang, Pak Jack dan Pak Doni) dan 2 suara Bass (Pak Hadi, Pak Ichwan). Misa berjalan lancar dan khidmat. Bu Dani menyanyikan Mazmur Tanggapan dengan suara merdu dan apik... Pak Eddy Bambang juga tampil prima menyanyikan Bait Pengantar Injil. Karena jumlah anggota koor Santher hanya sedikit, suara koor memang tidak “menggelegar”... namun semua kompak menyanyi sehingga suasana khidmat terpelihara. Lagi pula Koor Santher cukup fasih menyanyikan aklamasi-aklamasi yang baru diterapkan bulan Maret ini.
Tugas-tugas Koor Santher berikutnya antara lain: Minggu 22 Maret pk 9.00 di Gereja Santo Ignatius Loyola Semplak, Jumat 10 April pk 15.00 di Gereja Santo Ignatius Loyola Semplak, Minggu 12 April pk 7.00 di Katedral BMV dan Minggu 26 April pk 17.00 di Gereja Katedral.
Memang Romo Alfons sempat meminta umat bertepuk tangan untuk Koor Santher, namun hendaknya pujian ini tidak menjadikan kita "jumawa" atau sombong... Ini justru harus menjadi pemacu semangat karena kenyataannya kita kemarin tidak tampil dengan banyak anggota.
Melihat sedikitnya anggota koor Santher yang dapat bertugas –karena banyak warga yang berhalangan hadir—perlu dipikirkan untuk bekerja sama atau mengajak koor lain untuk bergabung dalam tugas. Dengan Exultate, misalnya, Koor Santher dapat melanjutkan kerja sama seperti yang terjadi selama ini. Untuk tugas Minggu 8 Maret yang lalu, Koor Santher berterima kasih kepada Sheila Gunawan yang setia membantu dengan memainkan organ secara bagus dan khidmat.
Tugas-tugas Koor Santher berikutnya antara lain: Minggu 22 Maret pk 9.00 di Gereja Santo Ignatius Loyola Semplak, Jumat 10 April pk 15.00 di Gereja Santo Ignatius Loyola Semplak, Minggu 12 April pk 7.00 di Katedral BMV dan Minggu 26 April pk 17.00 di Gereja Katedral.
Memang Romo Alfons sempat meminta umat bertepuk tangan untuk Koor Santher, namun hendaknya pujian ini tidak menjadikan kita "jumawa" atau sombong... Ini justru harus menjadi pemacu semangat karena kenyataannya kita kemarin tidak tampil dengan banyak anggota.
Melihat sedikitnya anggota koor Santher yang dapat bertugas –karena banyak warga yang berhalangan hadir—perlu dipikirkan untuk bekerja sama atau mengajak koor lain untuk bergabung dalam tugas. Dengan Exultate, misalnya, Koor Santher dapat melanjutkan kerja sama seperti yang terjadi selama ini. Untuk tugas Minggu 8 Maret yang lalu, Koor Santher berterima kasih kepada Sheila Gunawan yang setia membantu dengan memainkan organ secara bagus dan khidmat.
Monday, 2 March 2009
AWAS... HATI-HATI DENGAN PENIPUAN RELIGIUS...
Sudah sejak pertengahan Desember 2008 yang lalu lingkungan Santher didatangi seorang anak muda yang mengaku bernama Alex. Ia biasanya datang pada petang-malam hari.
Pengakuannya kurang lebih sebagai berikut (setidak-tidaknya ini hal yang dikatakannya ketika bertemu saya persis di depan rumah saya):
Ia datang dari Bandung untuk menemui tantenya di Bogor. Dalam perjalanan ke Bogor ia kehilangan dompet dan seluruh isinya. Ia kehilangan alamat tantenya. Menurutnya, ini kedatangannya pertama kali ke Bogor sehingga ia tidak tahu di mana alamat tantenya. Ia datang untuk mengambil uang yang dijanjikan tantenya untuk membiayai sekolah adiknya di Bandung (untuk membeli LKS)... Ia mengaku sebagai seorang Katolik... dari paroki Santo... (saya lupa) dan ia bisa menyebutkan dengan fasih nama baptisnya sendiri, nama ketua lingkungan tempat asalnya dan nama pastor parokinya (tentu saja saya tidak tahu apakah nama-nama itu benar). Di akhir pembicaraan ia selalu meminta saran ... "Apa yang harus saya lakukan?" Dia selalu mengatakan bahwa yang penting ia dapat pulang ke Bandung dengan selamat. Kalau ditanya berapa uang yang dibutuhkan, ia menjawab bahwa untuk naik bus saja dibutuhkan uang Rp 35.000. Nah... tuh, siapa orang Katolik yang tidak tergerak hatinya untuk membantu? Apalagi pemuda itu lumayan sopan, tutur katanya baik, perawakannya atletis... barangkali bisa juga ikut jadi foto model... pakai T-shirt, sepatu kets, celana jeans...
Waktu ia datang pada saya, saya tidak memberinya apa-apa... Selain saya curiga dengan alasannya (masa sih orang datang ke rumah keluarganya untuk pertama kalinya tidak membawa tas isi oleh-oleh atau baju untuk bermalam dan semacamnya... dan di jaman sekarang, untuk membeli LKS yang harganya tentu tidak terlalu mahal ia musti naik bus dan lain-lain hingga mengeluarkan uang ratusan ribu?)... Kebetulan saya memang sedang tidak punya uang lebih di rumah... Tetapi malam itu dan selama beberapa malam sesudahnya saya hampir selalu susah tidur memikirkan anak muda itu... Loh bukankah Tuhan Yesus pernah bilang agar kita juga membantu mereka yang berkesusahan?
Tetapi saya bersyukur bahwa ternyata apa yang saya lakukan benar... Ternyata anak mudah itu tidak lebih sebagai seorang penipu. Ia telah menipu banyak warga Santher... ia datang ke lingkungan Santher berkali-kali... dan ia telah membuat banyak saudara kita kehilangan uang, waktu dan tenaga hanya untuk "ditipu"... Saya mendengar cerita dari beberapa rekan Santher yang telah dikibulinya... ada yang memberi Rp 50.000 dan bahkan lebih... karena orang-orang Santher memang murah hati (!)... Ada yang bahkan sampai mau mengantar ke terminal bus Baranangsiang... duh... kurang apa kita, coba?
Sekitar sebulan yang lalu Pak Totok, Pak Ronny dan rekan-rekan akhirnya berhasil mencium kedok jahat si anak muda itu... Kita akhirnya membuat kesepakatan untuk mengumumkan ke semua warga Santher supaya semua berhati-hati.
Nah, hari Minggu kemarin, 1 Maret 2009, ia datang lagi... dan secara kebetulan ia datang ke rumah Bapak Hadi Karyono... rupanya si penipu lupa bahwa ia pernah datang ke rumah itu dengan alasan yang sama... Dan Pak Hadi Karyono pun naik pitam dibuatnya... tetapi rupa-rupanya suasana sekitar rumah beliau sedang sepi sehingga beliau tidak dapat melakukan upaya lain selain menyuruh si penipu pergi dan tidak berbuat dosa lagi (nah Bapak Hadi seperti Tuhan Yesus nih... he..he... ). Coba kalau ada orang lain di dekat situ... tapi sudahlah... apa yang dilakukan Bapak Hadi sudah tepat.
Kita berharap bahwa berita ini akan tersebar ke mana-mana di wilayah Paroki Katedral... karena kita yakin bahwa modus operandinya hampir sama... Ia memanfaatkan kemurahan hati dan rasa kekatolikan kita untuk memperoleh keuntungan sendiri. Ia mencari informasi ke mana-mana dan memiliki data lengkap tentang kita. Mungkin ia tidak sendirian... data itu bisa ia berikan kepada orang lain... Mumpung kebodohannya sendirilah yang membuat kedoknya untuk saat ini terbongkar, mari kita kabarkan hal ini kepada semua orang agar waspada... Kita tidak mau ditipu lagi. Semoga si pemuda bertobat... kalau ia memang Katolik, semoga ia bisa bertobat di masa Prapaskah ini dan merayakan Paskah nanti dengan layak...
Pengakuannya kurang lebih sebagai berikut (setidak-tidaknya ini hal yang dikatakannya ketika bertemu saya persis di depan rumah saya):
Ia datang dari Bandung untuk menemui tantenya di Bogor. Dalam perjalanan ke Bogor ia kehilangan dompet dan seluruh isinya. Ia kehilangan alamat tantenya. Menurutnya, ini kedatangannya pertama kali ke Bogor sehingga ia tidak tahu di mana alamat tantenya. Ia datang untuk mengambil uang yang dijanjikan tantenya untuk membiayai sekolah adiknya di Bandung (untuk membeli LKS)... Ia mengaku sebagai seorang Katolik... dari paroki Santo... (saya lupa) dan ia bisa menyebutkan dengan fasih nama baptisnya sendiri, nama ketua lingkungan tempat asalnya dan nama pastor parokinya (tentu saja saya tidak tahu apakah nama-nama itu benar). Di akhir pembicaraan ia selalu meminta saran ... "Apa yang harus saya lakukan?" Dia selalu mengatakan bahwa yang penting ia dapat pulang ke Bandung dengan selamat. Kalau ditanya berapa uang yang dibutuhkan, ia menjawab bahwa untuk naik bus saja dibutuhkan uang Rp 35.000. Nah... tuh, siapa orang Katolik yang tidak tergerak hatinya untuk membantu? Apalagi pemuda itu lumayan sopan, tutur katanya baik, perawakannya atletis... barangkali bisa juga ikut jadi foto model... pakai T-shirt, sepatu kets, celana jeans...
Waktu ia datang pada saya, saya tidak memberinya apa-apa... Selain saya curiga dengan alasannya (masa sih orang datang ke rumah keluarganya untuk pertama kalinya tidak membawa tas isi oleh-oleh atau baju untuk bermalam dan semacamnya... dan di jaman sekarang, untuk membeli LKS yang harganya tentu tidak terlalu mahal ia musti naik bus dan lain-lain hingga mengeluarkan uang ratusan ribu?)... Kebetulan saya memang sedang tidak punya uang lebih di rumah... Tetapi malam itu dan selama beberapa malam sesudahnya saya hampir selalu susah tidur memikirkan anak muda itu... Loh bukankah Tuhan Yesus pernah bilang agar kita juga membantu mereka yang berkesusahan?
Tetapi saya bersyukur bahwa ternyata apa yang saya lakukan benar... Ternyata anak mudah itu tidak lebih sebagai seorang penipu. Ia telah menipu banyak warga Santher... ia datang ke lingkungan Santher berkali-kali... dan ia telah membuat banyak saudara kita kehilangan uang, waktu dan tenaga hanya untuk "ditipu"... Saya mendengar cerita dari beberapa rekan Santher yang telah dikibulinya... ada yang memberi Rp 50.000 dan bahkan lebih... karena orang-orang Santher memang murah hati (!)... Ada yang bahkan sampai mau mengantar ke terminal bus Baranangsiang... duh... kurang apa kita, coba?
Sekitar sebulan yang lalu Pak Totok, Pak Ronny dan rekan-rekan akhirnya berhasil mencium kedok jahat si anak muda itu... Kita akhirnya membuat kesepakatan untuk mengumumkan ke semua warga Santher supaya semua berhati-hati.
Nah, hari Minggu kemarin, 1 Maret 2009, ia datang lagi... dan secara kebetulan ia datang ke rumah Bapak Hadi Karyono... rupanya si penipu lupa bahwa ia pernah datang ke rumah itu dengan alasan yang sama... Dan Pak Hadi Karyono pun naik pitam dibuatnya... tetapi rupa-rupanya suasana sekitar rumah beliau sedang sepi sehingga beliau tidak dapat melakukan upaya lain selain menyuruh si penipu pergi dan tidak berbuat dosa lagi (nah Bapak Hadi seperti Tuhan Yesus nih... he..he... ). Coba kalau ada orang lain di dekat situ... tapi sudahlah... apa yang dilakukan Bapak Hadi sudah tepat.
Kita berharap bahwa berita ini akan tersebar ke mana-mana di wilayah Paroki Katedral... karena kita yakin bahwa modus operandinya hampir sama... Ia memanfaatkan kemurahan hati dan rasa kekatolikan kita untuk memperoleh keuntungan sendiri. Ia mencari informasi ke mana-mana dan memiliki data lengkap tentang kita. Mungkin ia tidak sendirian... data itu bisa ia berikan kepada orang lain... Mumpung kebodohannya sendirilah yang membuat kedoknya untuk saat ini terbongkar, mari kita kabarkan hal ini kepada semua orang agar waspada... Kita tidak mau ditipu lagi. Semoga si pemuda bertobat... kalau ia memang Katolik, semoga ia bisa bertobat di masa Prapaskah ini dan merayakan Paskah nanti dengan layak...
Subscribe to:
Posts (Atom)