Informasi tentang kegiatan pertemuan, tugas-tugas lingkungan, koor, BIA dan kegiatan lain di Lingkungan Santa Theresia Bogor Raya Permai, sebuah lingkungan Gereja Katolik yang terletak di komplek perumahan Bogor Raya Permai Kota Bogor - Jawa Barat, Indonesia
Monday, 14 December 2009
Santher 12-13 Desember 2009
Malam harinya, Sabtu 12 Desember pk 19.00 sebagian umat berkumpul dalam pertemuan AAP di rumah Bapak Ronny-Ibu Monic.
Minggu, 13 Desember 2009, Koor Santher berlatih di rumah Bapak Hermawan Aswindarto (Pak Toto-Ketua Lingkungan). Meskipun Pak Totok dan Bu Eni sekeluarga tidak sedang berada di rumah... mereka sedang mengantar Hera untuk pentas dalam sebuah acara seni di Jakarta, Pak Totok tetap menyediakan rumahnya untuk latihan koor. Dalam latihan ini, koor Santher berlatih lagu-lagu untuk tugas misa Natal 25 Desember 2009 pk. 7.00. Kita berharap agar tugas koor nanti dapat terselenggara dengan baik... kita juga akan dibantu oleh beberapa teman dari koor Exultate dan mungkin juga dari koor/wilayah/lingkungan lain.
Monday, 7 December 2009
Misa di Rumah Bapak Hadi Karyono
Memang, lingkungan Santher merasa kehilangan karena ditinggal Pak Hadi, Bu Ratna, Jerry, Alex dan Katrin... Selama bertahun-tahun ini mereka memberi warna khusus bagi umat Santher. Keramahan dan perhatian mereka terhadap sahabat-sahabat di lingkungan sangat terasa... Karena itu, sekalipun mereka berpindah tempat tinggal, hubungan persaudaraan tetap selalu ada. Kita juga ikut merasa senang bahwa keluarga Bapak Hadi Karyono memiliki rumah yang nyaman bagi mereka. Semoga dengan pemberkatan rumah ini, keluarga Pak Hadi semakin sejahtera, rukun dan menjadi teladan bagi keluarga-keluarga yang lain.
Monday, 2 November 2009
ADMINISTRATOR KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG
From: Thomas Aquino Sutadi
Subject: SELAMAT BERTUGAS
| Selamat pagi, Sahabat... Saya gembira membaca tulisan teman-teman Canisi83 di milis tentang penugasan baru Rm Riana Prapdi sebagai Administrator Diocesan Keuskupan Agung Semarang. Terbayang dalam pikiran saya betapa makin besar tugas dan tanggung jawab Romo saat ini dan di masa-masa yang akan datang. Tetapi saya yakin bahwa penugasan ini bukan saja sudah dipikirkan matang-matang oleh Bapa Suci, tetapi juga sudah disiapkan oleh Tuhan sendiri. Karena itu, saya percaya bahwa Tuhan akan melengkapi apa yang sekiranya masih kurang dalam diri Romo Riana. Selamat bertugas, Monsignor. Doa saya dan keluarga serta teman-temanmu menyertaimu dalam tugas penggembalaan ini. Proficiat. Thomas A. Sutadi Bogor Raya Permai FD 6 No. 35 Kota Bogor 16113 0251-7540754 081380998494 --- Pada Jum, 30/10/09, riana prapdi Judul: Re: SELAMAT BERTUGAS Mas Sutadi, Saya merasa bersyukur memiliki teman-teman seperjalanan yang penuh kasih, perhatian dan doa yang tak kunjung putus. Kita semua sebenarnya adalah 'administrator' di tempat kita masing-masing; karena administrator berasal dari kata ad dan ministrare, yang berarti menuju kepada pelayanan. Kalau boleh saya tambahkan: menuju kepada pelayanan yang semakin baik. Dalam arti ini, maka kita semua adalah pelayan atau administrator di bidang hidup kita masing-masing. Maka layaklah kita berjuang untuk menjadi pelayan-pelayan yang baik, apalagi pelayan masyarakat dalam bidang kerja kita masing-masing. Tuhan memberkati kita semua. Salam dan doa selalu, Rm. Riana |
TUGAS KOOR SANTHER MINGGU 1 NOVEMBER 2009
Koor Santher, dibantu beberapa rekan Exultate seperti Pak Simon, Mas Gago, Mas Mian, Pak Nicho, dokter Ika, dokter Sisca, dan Bu Heri, menyanyikan lagu-lagu khusus untuk perayaan ini. Iringan organ yang dimainkan Sheila membuat tugas berjalan baik dan lancar.
Tugas berikut bagi Santher adalah Sabtu 12 Desember di Gereja St Ignatius Semplak. Selain itu juga akan ada Misa Lingkungan pada Kamis 26 November di rumah Ibu Sri Wawan dan pada Jumat 27 November di kediaman Bapak Hadi Karyono di Bogor Lake Side.
Monday, 19 October 2009
KEGIATAN SANTHER MINGGU KEMARIN
Menurut jadwal, doa Rosario Sabtu 17 Oktober diselenggarakan di rumah Ibu Ida Situmorang. Rupa-rupanya karena ada hujan deras dan listrik mati, kegiatan tidak dapat berjalan dengan baik. Hanya Ibu Mega, Ibu Nainggolan, Frans dan Ibu Ida yang dapat berkumpul untuk berdoa rosario lingkungan...
Minggu 18 Oktober 2009 Pk 19.00-21.00 diadakan latihan koor di rumah Bapak Napitupulu. Latihan berlangsung dengan lancar... semua suara terisi. Latihan ini adalah untuk mempersiapkan tugas tanggal 1 November 2009 di Katedral BMV...
Friday, 16 October 2009
TAU - Asal Usul dan Tradisi Simbol Fransiskan
TAU - Asal Usul dan Tradisi Simbol Fransiskan
Dua bulan lalu selesai mengikuti Misa Jumat Pertama di Gereja SanMaRe
(Santa Maria Regina) Bintaro saya menyempatkan diri melihat-lihat ke
kios dan toko buku rohani gereja. Diantara benda-benda rohani dan
pajangan buku, secara tidak sengaja mata saya tertumbuk pada buku yang
tersembunyi di belakang buku lainnya dengan gambar sampul logo T
Fransiskan, penasaran saya ambil buku tersebut dari belakang tumpukan
buku lain, benar saja, ternyata buku terbitan Bina Media itu berjudul
"Tau - Asal Usul dan Tradisi Simbol Fransiskan".
Sungguh, saya senang sekali, semenjak membaca "Kristus dari San
Damiano" terbitan Sekafi, baru kali ini saya mendapatkan buku yang
membahas dengan sangat lengkap dimensi Salib Tau sebagai salah satu
simbol Fransiskan, dan tidak sekedar mengambil kutipan Kitab Suci
Perjanjian Lama yang selalu menjadi rujukan Salib Tau ini.
Buku setebal 104 halaman karangan Enrico Sciamanna ini dibagi menjadi
beberapa bab, yaitu:
* Asal usul Tau
* Sukacita yang ditimbulkan Tau
* Tau dalam abjad dan di antara tafsiran-tafsiran
* Pilihan Fransiskus
* St. Antonius dan Tau?
* Ikonografi lainnya pada masa itu
* Tau dan angka nol
* Takdir salib dan pengikut Catharisme
* Sang Santo dan simbol Kitab Suci
* Santo Fransiskus: Ksatria dan juara di zamannya
* Tau dan godaan: Chartula
* Beberapa pertimbangan tentang ikonografi salib
* Pengakuan terhadap Tau
Dan untuk mengetahui sekilas buku ini, ijinkan saya mengutipkan
kalimat di belakang buku yang menggambarkan isi buku menarik ini:
"Tau merupakan tanda keagungan, tempat yang berhubungan erat dengan
Pencipta. Tau didukung penuh oleh tradisi injil kekristenan yang solid
saat lambang tersebut dianut Santo Fransiskus dalam hidup religiusnya.
Santo Fransiskus menerima lambang itu dengan sungguh-sungguh dan
menyeluruh, hingga akhirnya mentransformasikan dalam dirinya melalui
Stigmata di tubuhnya. Dengan Tau ia sering berkontemplasi, menulis,
dan di atas segalanya ia begitu memujanya. Lebih dari semuanya, Tau
adalah lambang devosi kekristenan yang nyata, sebuah komitmen yang
eksistensinya mengikuti Kristus. Ini berarti bahwa Tau mengingatkan
kita pada aksioma kekristenan yang terutama bahwa segala sesuatunya,
hari demi hari semakin banyak kehidupan manusia diselamatkan dan
ditebus oleh cinta Kristus yang disalib, diubah menjadi kehidupan
baru, kehidupan yang menebarkan kasih. Dengan mengenakan Tau, baik
secara kasat mata ataupun dalam hati, orang-orang yang mengimaninya
mengajak kita untuk turut berharap, sehingga mampu menyatakan diri
sebagai pengikut Santo Fransiskus.
Buku karya Enrico Scimanna ini mengkaji hasil-hasil studi dan
terjemahan sebelumnya, lebih sistematis dari buku lainnya, dan
menyelidiki dengan pendekatan-pendekat an baru, berani dan rasional
dalam rangka menjawab beberapa dari berbagai pertanyaan tentang Tau.
Juga menyelidiki tujuan lambang tersebut selama berabad-abad dan
kemunculannya yang signifikan di berbagai tempat. Membuat orang akan
semakin memahami Tau lengkap dengan asal-usul dan tradisinya".
Begitulah, Santo Fransiskus, doakanlah kami.
Bogor, 6 Oktober 2009
--
F.A. Wisnu
Monday, 12 October 2009
MENEMBUSI TANDA DAN LAMBANG
Teks MENEMBUSI TANDA DAN LAMBANG ini saya ambilkan dari tembusan email Bapak F.A. Wisnu
<fransiskus.wisnu@gmail.com > di milis santher@yahoogroups. Saya mengajak umat Santa Theresia untuk merenungkan kembali kehadiran Tuhan dalam Ekaristi dan Sakramen Mahakudus... Mari kita berkaca pada sikap dan tindakan Santo Fransiskus Asisi... mungkin kita tidak sehebat orang kudus ini, namun panggilan untuk menjadi dekat dengan Tuhan Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus selalu aktual dan harus kita wujudkan... Mari membuka mata dan telinga hati kita.
Thomas A. Sutadi
Beberapa tahun lalu, di salah satu pulau di Maluku ditemukan seorang serdadu Jepang yang masih bertahan hidup di situ sejak Perang DuniaII. Ia hidup di hutan makan dari hasil hutan dan hasil perburuannya. Ia masih menantikan kembalinya komandannya, karena ia belum tahu bahwa Jepang sudah lama menyerah dan perang sudah lama berakhir.
Yang menjadi masalah untuk tentara Indonesia ialah bagaimana membujuk atau memikat orang itu untuk menyerah. Mereka harus berhati-hati karena samurai si Jepang itu tidak pernah lepas dari badannya.
Akhirnya ada akal yang baik, dua tentara Indonesia menghampiri si Jepang itu, sewaktu serdadu Jepang itu kelihatan mulai mencium kehadiran mereka , salah satu dari mereka menyanyikan lagu “Kimigayo” lagu kebangsaan Jepang, dengan sikap hormat sempurna.
Mendengar lagu kebangsaan negaranya dan melihat bendera tanah airnya, si Jepang itu berdiri tegap memberi hormat kemiliteran. Menjelang berakhirnya lagu Kimigayo, sebelum dia sempat meraih samurainya, seorang serdadu Indonesia yang lain dengan sigap mencengkamnya dari
belakang. Akhirnya mereka berhasil menjinakkannya dan kemudian meyakinkan dia bahwa perang sudah selesai dan Jepang sudah kaya raya, karena itu ia boleh kembali ke negerinya dengan tenang.
Yang menarik dari serdadu Jepang itu ialah kepekaannya yang amat tajam terhadap tanda dan lambang. Sudah puluhan tahun ia berhasil bertahan di hutan, karena itu setiap ada bahaya yang mengancam akan tercium olehnya. Akan tetapi, begitu ia mendengar lagu kebangsaan dan melihat bendera negaranya, ia terserap seluruhnya dalam tanda-tanda itu dan lupa akan semua bahaya yang mengancam.
Lagu “Kimigayo” dan bendera “Matahari Terbit” menggugah rasa kebangsaannya, ia langsung teringat pada Nippon, ia “melihat” Hirohito sang Kaisar. Karena itu, tanpa menimbang lagi ia segera memberi hormat dengan sikap sempurna seorang prajurit Nippon. Bagi dia, lagu
kebangsaan dan bendera itu identik dengan Jepang, ia dengan telinga mendengar lagu dan dengan matanya melihat bendera, akan tetapi dengan hatinya, ia menembusi kedua tanda yang kecil dan terbatas itu dan menemukan kenyataan besar yang ditandakannya, yaitu Jepang, Dai
Nippon, yang untuknya ia bersedia mati, dengan harakiri sekalipun.
Menembusi tanda dan lambang, itulah kiranya yang bisa dikatakan mengenai Fransiskus Asisi, juga dalam sikapnya terhadap Sakramen Ekaristi. Melihat “hosti”, benda kecil yang putih dan tipis, serta “anggur” di altar persembahan, Fransiskus bereaksi dan bergetar. Ia bersujud menyembah, bibirnya bergumam : “Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus”. Matanya memandang kagum, “O Keagungan, O Keluhuran, O Tuhan semesta alam, Allah dan Putra Allah.” Lalu, ia memejamkan mata, menggigit bibirnya menahan rasa haru dan membiarkan arimatanya mengalir dengan sendirinya sampai ke sudut-sudut bibirnya, ia mendesah penuh haru, “O Kedinaan, O Kerendahan, O Kemiskinan, O Kasih. Allah dan Putra Allah menanggalkan segala Keagungan-Nya dan memberikan diri seutuh-utuhnya kepadaku, Ia sudi merendahkan diri untuk mengangkataku, cacing yang hina ini. O Kasih, O Kasih, Kasih...hanya karena
Kasih, demi Kasih, untuk Kasih.”
Dalam tanda lambang yang sederhana itu Fransiskus melihat Kristus yang menghampakan diri mulai dari Bethlehem sampai Kalvari. Ia merasakan getaran kasih Allah yang mencintai sampai sehabis-habisnya, ia menyaksikan Tuhan yang tidak menahan sesuatupun bagi diri-Nya, tetapi
mengorbankan diri habis-habisan untuk keselamatan manusia. Maka, tanda lambang yang sederhana itupun menggerakkan dia untuk bereaksi dan menentukan sikap.
Di altar ada penghampaan diri, maka tidak ada pilihan lain bagiku selain menanggalkan semua harta milik.
Di altar ada perendahan diri, maka tidak ada jalan lain bagiku selain terus menerus menjadi hina dan dina.
Di altar ada perdamaian dan persekutuan, maka tak ada pilihan bagiku selain berusaha menjadi saudara bagi semua mahluk.
Di altar ada kasih, maka tugasku hanyalah menjadi penyalur kasih bagi setiap insan dan mahluk yang tak berhayat sekalipun.
Di altar Ia memberikan diri seutuh-utuhnya bagiku, maka tidak ada jawaban lebih tepat selain bahwa akupun memberikan diriku seutuh-utuhnya bagi Dia dan bagi semua sudara-Nya yang terkecil di sekitarku.
Bagaimana Fransiskus mempu menembusi tanda dan lambang dan langsung menyentuh kenyataan ILAHI yang tak terhingga itu ? Kuncinya hanya satu, yaitu Roh Tuhan.
Tanpa Roh, orang-orang di sekitar Yesus hanya mengenal Dia sebagai “Orang Nazareth Bin Miryam” dan tidak mengenal Dia sebagai Anak Allah.
Tanpa Roh, orang di sekitar altar hanya melihat hosti dan anggur sebagai benda mati dan bukan Allah dan Putra Allah.
Tanpa memiliki Roh, kita tidak dapat dan tidak pantas menyambut, maka nasihatnya adalah, berusahalah untuk memiliki hanya satu, yaitu ROH TUHAN.
(“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” - Luk 11 : 13)
(Kuntum-Kuntum Kecil, Butir-Butir Permenungan Saudara Kelana)
Diposkan oleh Nicolas
Label: Kuntum-kuntum kecil